Selamat Jalan Achdiat Kartamihardja…

Kamis 8 July 2010 sekitar jam 11 siang, seorang teman memanggil namaku, ada kabar duka pak Achdiat Kartamihardja meninggal dunia..inna lillahi wa inna ilaihi roji’un….ucapku tercekat.

Nama Achdiat K Mihardja, seorang sastrawan besar yang saya kenal dan kagumi sejak saya duduk di SMP, memang sejak beberapa minggu belakangan diberitakan dirawat di Canberra Hospital dalam usianya yang menginjak ke 99 tahun.

Mau nggak menemani memandikan jenazahnya, kata temanku kemudian memecahkan keterpakuanku. Memandikan jenazah?? Kataku agak terbata, bukan apa-apa aku belum pernah memandikan jenazah.. ya, siapa lagi kalau bukan kita-kita, lanjut temanku, disini kan komunitas orang islam terbatas..

Sekitar jam 1 kemudian aku dan kedua temanku meluncur menuju Tobin Brother Funeral, Kingston, tempat pemandian jenazah. Memang sesuai peraturan di Australia, tidak diijinkan untuk memandikan jenazah dirumah sendiri, bahkan untuk membawa jenazah ke rumah pun harus dengan prosedur dan pengawasan yang ketat, karena terkait dengan masalah kesehatan lingkungan.

Di depan Tobin Brother Funeral telah menunggu beberapa orang termasuk salah satu anak kandung beliau. Proses pemandian sendiri dipimpin salah seorang ulama dari Indonesia yang telah menjadi Permanent Resident Australia. Proses pemandian selesai pukul 3 siang waktu Canberra dan setelah dikafani, jenazah kemudian dibawa ke Canberra Mosque di daerah Yarralumla untuk disholatkan. Pihak KBRI sendiri dari pengumuman resmi yang disebar melalui beberapa milis mengadakan tahlilan setelah proses pemakaman.

Selepas Ashar, kita kemudian mencari restaurant, karena tersadar perut yang sudah keroncongan belum terisi makanan. Dalam perjalanan pulang aku tercenung, ada banyak hal yang hinggap di benakku. Pertama, takdir ternyata mempertemukan aku dengan sosok Achdiat Kartamihardja yang terkenal dengan novel Atheis-nya yang sangat saya kagumi dalam kondisi yang sudah berbeda di tempat antah berantah di negeri orang, kedua, agak miris juga kalau aku ditakdirkan meninggal dunia di negeri yang muslimnya minoritas seperti di Australia ini apalagi tak ada keluarga, disaat seperti itu mungkin benar-benar merasakan nilai persaudaraan sesama muslim, ketiga, tak ada salahnya memang kita sebagai muslim belajar hal-hal yang terkadang kita abaikan selama di tanah air, seperti memandikan, mengkafani, dsb., karena bisa jadi hal itu sangat dibutuhkan suatu saat, apalagi hal-hal itu sifatnya adalah fardlu kifayah, yang artinya kira-kira kewajibannya bagi semua orang-orang islam untuk melaksanakannya dan tak akan gugur selama belum dilaksanakan oleh sebagian orang-orang islam yang lainnya.

Kupandangi pohon-pohon yang meranggas sepanjang perjalanan dari balik kaca jendela mobil, ah dunia memang hanya tempat sementara kita bersinggah, gumamku…terima kasih pak Achdiat Kartamihardja, ada banyak pelajaran hidup kupetik hari ini, selamat jalan, semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah ta’ala ya robbil ‘izzati…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s