Partai Politik Berlabel Agama, Masih Lakukah?

Dinamika politik mendekati pemilu tahun 2009 semakin memanas. Beberapa analisis dan survey telah dilakukan oleh beberapa lembaga peneliti. Salah satu kesimpulan dari penelitian2 tersebut adalah kecenderungan menurunnya vote untuk partai yang berbasis agama, benarkah?

Menilik hasil pemilu tahun 2004 lalu, agaknya sinyalemen ini bisa jadi benar adanya. Pada pemilu tahun 2004, parpol yang mengusung citra nasionalis seperti Golkar, PDIP dan Demokrat nyaris menguasai separoh kursi parlemen. Golkar (21.58%), PDIP (18.53%), Demokrat (7.45%), jika ditotal menjadi sekitar 48%. Sekarang kita lihat perolehan parpol yang berlabel agama islam baik yang terang2an seperti PKS, PBB, PBR, dan PPP maupun parpol yang dalam AD-ART nya adalah partai inclusif tetapi tetap mengandalkan massa ideologis-pemilih traditional dari dua ormas islam seperti PKB dan PAN. PKS (7.34%), PKB (10.57%), PAN (6.44%), PPP (8.15%), PBB (2.62%), dan PBR (2.44%) jika dijumlah hanya menguasai sekitar 38% saja.

Dari hasil survey LSI yang dilakukan pada bulan September 2008, diketahui fakta yang menarik bahwa raihan suara parpol berlabel agama ini menurun, PKS diprediksi hanya mendapatkan 6.3%, PKB (5.7%), PAN (2.7%), PPP (2.4%), PMB (1%), jika ditotal hanya sebesar 18%. Hal ini menjadi ironis mengingat penduduk Indonesia mayoritas adalah muslim, lalu mengapa ini bisa terjadi?

Menurut pendapatku yang awam soal politik, hal pertama yang perlu dicermati adalah adanya kecenderungan orang berekspektasi berlebihan terhadap orang yang membawa ayat dan firman tuhan, bahwa orang yang membawa2 ayat Al-Qur’an dalam aktivitas politik harus benar dan lurus, tidak boleh salah. Implikasinya kemudian adalah adanya “dosa tak termaafkan” dalam hal politikus dari parpol tersebut melakukan sesuatu yang jauh dari tata nilai agama. Hal ini berbeda dengan parpol yang berbasis nasionalis, sepertinya bagi mereka, perbuatan tercela adalah hal biasa dan mudah termaafkan. Lihat saja, Al Amin Nur Nasution dalam skandal Tanjung Siapi Api ataupun Sutrisno Bachir dalam skandalnya dengan salah satu selebritis, Nia Paramitha, berefek panjang. Orang kemudian menanyakan mengapa orang dari parpol islam begitu bejat perilakunya, padahal mereka sering mengutip ayat Al-Qur’an dalam kampanyenya, tak hanya itu, pada beberapa orang dengan tingkat pemahaman politik yang cukup kemudian timbul perasaan marah dan tidak rela mereka membawa panji2 agama dalam kegiatan politik, mereka beranggapan agama hanya menjadi alat untuk mencari kekuasaan. Sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan kepada parpol berbasis nasionalis, walaupun perilaku mereka mungkin jauh lebih bejat lagi. Lihat saja kasus Yahya Zaini (Golkar), Agus Chondro (PDIP), dll. nya lambat laun akan termaafkan oleh publik..(tidak terlalu mempengaruhi preferensi masyarakat)

Hal kedua yang patut dicermati adalah Islam di Indonesia terbagi dalam beberapa ormas yang seringkali menjadi underbow parpol. Ormas2 tersebut seringkali mengidentifikasikan mereka dengan mahzab tertentu dan terlarang untuk diutak atik. Kasus iklan PKS yang menggunakan 2 ikon ormas islam, K.H. Hasyim Asy’ari dan H.A. Dahlan, alih2 menimbulkan keeratan ukhuwah islamiyah justru menimbulkan kemarahan para penjaga ormas2 tersebut, bahkan orang sekaliber Din Syamsuddin ikut kebakaran jenggot. Hal yang dapat dijelaskan dari kasus ini adalah adanya ketidakrelaan porsi atau pangsa pasar mereka diutak-atik parpol lainnya. Apalagi dari berbagai survey diketahui bahwa banyak konstituen PAN mengalihkan suaranya ke PKS dalam pemilu 2004. Dan dari hasil suervey juga diketahui dalam pemilu 2009, kecenderungan ini terus berlanjut, bahkan bukan hanya pemilih PAN tetapi juga PKB akan tergerus. Agaknya ini pulalah yang menimbulkan kemarahan para petinggi ormas tersebut..

Belum lagi manufer2 masing2 parpol berbasis agama berebut massa islam yang menunjukkan cara yang tidak islami, seperti mengkerdilkan suatu parpol tertentu seperti PKS dengan memberi label atau stigma wahabisme dengan tujuan untuk memberi warning massa ormas yang bersangkutan untuk tidak tergerus dan berpaling …

Adanya manufer2 tersebut semakin membuka mata para voter bahwa tujuan mereka hanyalah memuaskan nafsu shahwat politik mereka menuju kekuasaan dengan berbagai cara termasuk mempolitisir agama. Pemikiran yang ekstrem malah politik dengan membawa label2 agama malah semakin mengkotak-kotakan umat islam dan menimbulkan perpecahan.

Hal berikutnya yang perlu dicermati adalah adanya perbedaan pemahaman terhadap ajaran islam sendiri sehingga menyulitkan parpol dalam bergerak, hal yang berlawanan dengan sifat parpol itu sendiri yang harus fleksibel. Satu contoh yang mudah adalah adanya presiden wanita. Dalam kasus ini, konstituen bisa tercerai berai karena ketidaksamaan pemahaman dan kalau parpol islam tidak cerdas menyikapinya, misalkan hanya bertujuan jangka pendek, dengan menggadaikan pemahaman mayoritas konstituennya, maka dapat ditebak akan muncul ketidakpercayaan lagi..

Dan hal klasik yang terlanjur tertanam dalam benak masyarakat adalah kemunculan parpol islam sendiri menimbulkan dikotomi kaum santri dan kaum islam abangan (atau stigma ini sengaja ditanamkan untuk mengkerdilkan parpol islam?). Dikotomi semacam ini merugikan parpol islam, karena orang yang merasa sebagai islam abangan merasa bahwa parpol islam bukanlah rumah yang nyaman, semacam tidak ada rasa penerimaan, dan yang terjadi kemudian mereka menemukan kenyamanan di parpol berbasis nasionalis. Padahal, sebagian besar umat muslim di Indonesia, bisa dikatakan masih rendah pemahaman maupun dalam pelaksanaan syariat islam (baca:abangan).

Hal ini sebenarnya sudah disadari oleh para politikus PKS yang lumayan cerdas. Dikotomi Agamis dan Nasionalis hanya akan merugikan mereka. Dari berbagai statement yang diucapkan oleh Tifatul Sembiring (presiden PKS), Anis Matta (Sekjen PKS) mereka mencoba mengaburkan garis nasionalis dan agamis, mereka mengambil contoh PDIP yang tidak murni nasionalis tapi juga bergeser ke agamis dengan membentuk Baitul Muslimin. Namun agaknya tidak mudah untuk mengubah pendapat umum yang sudah terlanjur mengakar..

Satu kunci yang sebenarnya dapat dilakukan untuk mendongkrak raihan suara mereka yaitu dengan peningkatan kinerja mereka baik di legislatif dan eksekutif. Mencoba memahami kebutuhan dasar masyarakat yang mendesak dan memperjuangkan dengan sungguh2 dan tulus, Insya Allah masyarakatpun dapat menilai parpol mana yang benar2 mengatasnamakan rakyat yang berorientasi mensejahterakan rakyat bukan berorientasi kepada kekuasaan semata..

papahnya lazuward

Referensi:
http://www.lsi.or.id

One response to “Partai Politik Berlabel Agama, Masih Lakukah?

  1. bagiku wajar saja, lha wong islam itu tak sejalan dengan sistem demokrasi. Dalam demokrasi suara mayoritas adalah suara Tuhan. siapa yang mayoritas dia bisa dengan seenaknya menindas yang lemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s