Infiltrasi Budaya “India”

Orang sering mengatakan bahwa budaya dan peradaban suatu negara dapat tercermin dari produk sinema negara tersebut..Suatu budaya dapat berasimilasi dengan budaya lainnya dengan sangat mudah melalui contact person atau kalau jaman sekarang, cara yang termudah, melalui media televisi..

India, negara yang jauh lebih tua peradabannya dari Indonesia, seperti tercermin dalam beberapa literatur sastra klasik- Mahabharata dan Ramayana, sejak jaman baheula mempunyai banyak pengaruh terhadap perkembangan budaya negara2 lain, termasuk Indonesia. Terlebih, India dikenal sangat produktif dalam pembuatan film/sinetron yang sudah punya jalur distribusi tersendiri ke beberapa negara lainnya.

Namun, akhir2 ini ada keresahan tersendiri melihat adanya dekadensi budaya di India, (dalam kaca mata awam saya), seperti tercermin dari produksi sineas2 mereka yang banyak diputar di stasiun TV Indonesia yang ide cerita dan penokohannya hanya berkutat hal2 yang itu2 saja, seperti perebutan warisan, dendam, cinta segitiga, yang pada akhirnya berbuntut pengaruhnya ke budaya kita, Indonesia.

Celakanya, tren film seperti itu diadaptasi secara total dalam produk2 sinema Indonesia, khususnya sinetron, yang sejatinya punya pangsa pasar yang luas dan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter dan perilaku orang, walaupun mungkin tidak secara langsung, generasi ke generasi.

Tidak hanya ide cerita dan penokohan saja, bahkan gestur dan verbal pun dicontek habis, sehingga sudah mahfum bagi kita melihat adegan “horor” setiap hari dalam kehidupan kita seperti sorot dan pelototan mata yang kejam, kerlingan mata yang mengisyaratkan kesadisan yang mendalam, senyum menyeringai, dendam yang menyala-nyala yang diungkapkan secara berlebihan, kata-kata verbal yang nyinyir yang semestinya tidak layak masuk dalam ruang pribadi rumah kita, seperti umpatan2 sarkasme. Tindakan yang sudah tidak manusiawi seperti merencanakan pembunuhan, meracuni minuman, memotong rem mobil, dll. Eksploitasi kesedihan dan kepedihan yang tak berujung sang bintang utama, ketidakberdayaan (atau kebodohan dan kenaifan?), serta eksploitasi kemegahan dan kekayaan seseorang yang tidak realistis. Naturalitas dalam berakting sudah tidak diperlukan lagi.

Celakanya lagi, produk2 seperti ini kebanyakan ditonton para ibu2 dan anak2 di rumah, yang seharusnya jadi tameng moral dan budaya kita..sesuatu yang berbahaya ada di depan kita..

Mengapa saya memberanikan diri menyebutkan hal ini sebagai infiltrasi budaya “india”, (walaupun jadi terkesan rasis dan tanpa penelitian ilmiah sebelumnya), karena sejatinya, pertama, kebanyakan sinetron2 kita diproduksi oleh PH yang dimiliki oleh orang2 India dan keturunannya seperti, Multivision Plus (Raam Punjabi), MD Entertainment (Manoj dan Damoo Punjabi), Soraya Intercine (Raam Soraya), Starvision (Chand Parwes), Rapi film (Gope T Satmani), Indika Entertainment (Shanker) dll. kedua, ide cerita dan penokohan tidak berbeda jauh dengan serial TV atau film produksi negara asal para produser tersebut, India. Ketiga, produk2 tersebut sangat berbeda jauh dengan, maaf, produksi sineas pribumi seperti Rano Karno dan Deddy Mizwar yang share-nya kecil sekali, namun mempunyai muatan idealis dan pesan moral yang dalam. Terlebih kalau kita bandingkan dengan produksi TVRI jaman dulu seperti Jendela Rumah Kita, Pondokan, Keluarga Rahmat, Dr. Sartika, dll..maka akan sangat jauh muatan edukasinya..

Sekarang lihatlah bagaimana sinetron remaja mengeksploitasi kenakalannya secara berlebihan, mencelakakan, membunuh tanpa rasa bersalah dan berdosa, serta mengagung2kan materi. Pada awalnya saya sempat heran, apakah remaja2 sekarang sebagaimana tercermin dalam sinetron2 kita sudah begini parahnya? Namun lambat laun, berdasarkan pengalaman empiris, dari mendengar sendiri celotehan2 mereka atau melihat tindakan mereka dalam tayangan berita kriminal, saya jadi mahfum, mereka memang ada sekarang ini, namun mereka ada tidak secara “ujuk-ujuk”, mereka ada, terbentuk dari potret sehari2 dalam sinetron2 kita.

Pertanyaan kemudian, apakah memang produk2 sampah seperti itu memang laku dan memiliki rating yang tinggi? jawabannya, ternyata tidak juga, rating mereka tinggi karena masyarakat kita tidak mempunyai pliihan lainnya sementara mereka perlu hiburan sehingga mereka melahap mentah2 saja isi sinetron itu, buktinya produksi “Keluarga Cemara”, “Kiamat Sudah Dekat” atau “Para Pencari Tuhan”, yang membumi dan ada muatan edukasinya lumayan laku. Apakah mereka tidak mampu mengartikulasikan pesan moral kedalam bahasa sinetron? atau memang mereka tidak bermoral dan tidak tau pesan moral yang baik untuk disampaikan? Ataukah memang mereka enggan membuat produk yang berkualitas atau memang ada “titipan sponsor”?

Produk “Ayat2 Cinta” yang fenomenal pun sekarang hanya diambil kulitnya saja, tentang cinta segitiga atau poligami, dan lagi2 permainan seperti pembunuhan, fitnah, kekejian, kata2 kasar, tetap jadi menu wajib bingkai seinetron2 itu, seperti sinetron Munajat Cinta, Muslimah, dan Ta’aruf yang sedang tayang sekarang2 ini. Kalau saya lihat, ini adalah tindakan pembodohan dan penipuan, atau penghinaan secara besar2an terhadap nilai2 islami. Dengan cara pragmatis mereka menyebutnya sinetron religius hanya dengan membungkus beberapa kalimat dengan tambahan kalimat thoyyibah: astaghfirullah, alhamdulillah, dan tak lupa menyelipkan soundtrack yang sangat religi sekali dari tembangnya Opick. Selebihnya sama saja dengan sinetron lainnya, tak ada nilai2 islamy disampaikan.

Tak adakah cerita yang menginspirasi generasi muda kita misalkan tentang semangat pantang menyerah menggapai cita-cita seperti serial TV Jepang “Oshin” atau semangat profesionalisme daris alah satu dorama Jepang “Anchor Lady”, atau perjuangan mempertahankan idealisme dengan cara yang elegan tanpa harus menurunkan atau menggadaikan harga diri?

Sekarang kita tidak perlu heran kalau sekarang kita naik angkot bareng anak2 sekolah, mereka dengan enaknya bilang “bego lo..”, “kubunuh kau”, atau kata2 nyinyir tentang cowok di sekolahnya yang jadi rebutan para cewek..Kata-kata yang dulu, jaman2 kita masih muda sangat tabu dikatakan, sekarang sudah biasa kita dengar sehari-hari.

Lalu bagaimana kita menjaga nilai2 budaya kita yang sangat arif itu? Itu sebenarnya adalah otoritas pemerintah untuk “menertibkan” produk2 sampah televisi. Namun agaknya, era reformasi menghadirkan ketidakberdayaan pemerintah (untuk tidak dikatakan campur tangan terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi), sesuatu yang sangat disayangkan karena menyangkut masa depan generasi muda kita. Bandingkan jamannya Soeharto, dalam beberapa hal saya menyetujui tindakan represif terhadap produk yang ditayangkan di televisi yang tidak sesuai dengan akar budaya kita. Saya masih ingat lagunya Rita Sugiarto yang berjudul “Makan Darah” dicekal karena megandung kata2 yang terkesan kasar dan akhirnya diganti dengan “Makan Hati” atau pada eranya lagu “Hati Yang Luka”, Harmoko mencekal lagu2 sejenis yang menimbulkan apatis dan pesimis.

Kalau pemerintah sudah tidak berdaya dan organisasi sperti KPI juga tidak terdengar kabar beritanya, maka jangan salahkan kalau mental dan moral generasi berikutnya akan lebih parah lagi…nilai2 adi luhung budaya kita semakin tergerus..

One response to “Infiltrasi Budaya “India”

  1. Untuk menghancurkan negeri ini tidak perlu dengan senjata pemusnah masal,kini anak bangsa ini telah terpola dengan main set kapitalis, hampir semua informasi kapitalis telah diterima , nilai nilai lokal telah tergantikan dengan nilai-nilai import. So tinggal tunggu waktu, Kontitusi telah beberapa kali di amandemen. suatu saat nanti aku akan bercerita kepada cucu-cucu-ku; Dulu ada negara yang nama-nya Indonesia…huallahhu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s