Zhang Ning: Sang Anomali Pemain Badminton

Bagi para penggemar olahraga tepok bulu, pasti mengenal nama dan sosok Zhang Ning, pemain badminton asal negeri tirai bambu, China. Sebenarnyalah kalau yang benar2 pecinta sejati badminton, tahu bahwa Zhang Ning sudah lama malang melintang di arena Badminton. Namanya mulai muncul ke publik sekitar tahun 1994, dia menjadi tunggal ketiga perebutan Uber Cup. Namun apa lacur, dari ajang bergengsi itulah justru kesuksesan malah menjauh, seperti mimpi buruk yang terus dibawanya dari satu turnamen ke turnamen lainnya, mimpi buruk setelah dalam partai penentuan dia dikalahkan oleh sang anak ajaib Indonesia kala itu, Mia Audina.

Tahun 90-an, merupakan masa2 suram Zhang Ning, namanya selalu dibawah bayang-bayang rival2nya sesama anggota pelatnas China seperti Ye Zhouying dan Wang Chen. Bahkan setelah era keemasan Ye Zhaouying dan Wang Chen menurun, diapun belum sanggup menerima tongkat estafet sebagai pemain elit China. Posisinya kala itu masih berkutat dan bersaing dengan sesama rekan pelatnasnya seperti Yao Yan, Dai Yun, Zeng Ya Qiong, dan Hang Jing Na.

Mimpi buruk Zhang Ning sepertinya terulang ladi dalam laga final Uber Cup 1996, dalam partai tunggal putri ketiga, lagi-lagi ia gagal mengalahkan tunggal putri Indonesia kala itu, Meiluawati. Pada awal tahun 1997, justru nama Gong Zhichao yang kemudian melejit dan menggantikan posisi Ye Zhaoying. Nama Zhang Ning bahkan tak terpilih dalam squad tim nasional China untuk, Olimpiade Atlanta dan Sydney. Untuk Uber Cup 1998 dan 2000, pada partai final, namanya tidak tercantum dalam list pemain, tunggal putri ketiga sudah tidak dipercayakan lagi kepadanya tetapi kepada Dai Yun.

Setelah Gong Zhichao mengundurkan diri setelah merebut medali emas Olimpiade Sydney, nama Zhang Ning juga masih bersaing lagi dengan pemain-pemain muda seperti Zhou Mi, Gong Ruina, dan Dai Yun. Bahkan pada pemilihan squad Uber Cup tahun 2002, nama Zhou Mi yang terpilih sebagai tunggal kedua, berturut-turut Gong Ruina dan Dai Yun sebagai tunggal kedua dan ketiga. Lagi-lagi namanya tidak tercantum.

Tahun 2002 agaknya menjadi tahun titik balik kesuksesan Zhang Ning. Setelah mulai didera rasa putus asa karena telah 10 tahun bergelut di dunia badminton namun sepi prestasi ditambah tidak diberi kepercayaan, dia bangkit berkat motivasi dari pelatih kepala, Li Yongbo, yang mengatakan kepadanya akan diberi kesempatan 1 atau 2 tahun lagi. Berturut-turut kesuksesan mulai direngkuhnya, termasuk turnamen yang sangat elit seperti juara dunia tahun 2003 dengan mengalahkan Gong Ruina. Tahun 2004, dia mulai dipercaya sebagai tunggal kedua uber cup dan pada tahun yang sama, seperti mengakhiri mimpi buruknya ketika di olimpiade Athena ia berhasil mengalahkan Mia Audina yang mewakili Belanda di partai final. Sebelumnya ia mengalahkan Wang Chen dan Zhou Mi di perempat dan semifinal. Tahun-tahun berikutnya adalah tahun pembuktian diri dia. Dia telah sangat matang baik secara fisik, mental dan pengalaman bertanding. Perjuangan panjang yang dialami telah menempa dia menjadi salah satu pemain putri yang sanggup bertahan di posisi puncak dalam waktu yang lama.

Tahun 2003
Juara Swiss Terbuka
Juara Kejuaraan Dunia
Juara Singapura Terbuka
Juara Hong Kong Terbuka
Juara Jerman Terbuka

Tahun 2004
Juara Korea Terbuka
Juara Malaysia Terbuka
Juara Olimpiade Athena 2004
Juara Singapura Terbuka

Tahun 2005
Juara Jepang Terbuka
Juara Singapura Terbuka
Juara Malaysia Terbuka
Juara Masters Cina
Juara Cina Terbuka
Juara Hong Kong Terbuka

Tahun 2006
Juara Jerman Terbuka
Juara Piala Uber
Juara Malaysia Terbuka
Juara Taipei Terbuka
Juara Jepang Terbuka
Juara Cina Terbuka

Tahun 2007
Juara Singapura Terbuka

Tahun 2008
Juara Olimpiade Beijing 2008

Di tahun 2008, diusianya yang menginjak 33 tahun, dia masih menunjukkan kekuatannya dengan memenangi medali emas Olimpiade Beijing mengalahkan rivalnya Xie Xinfang, yang jauh lebih muda darinya.

Zhang Ning, bisa dikatakan sebagai anomali pemain badminton. Pertama, dari segi usia, dia mementahkan pendapat umum yang mengatakan usia diatas 30an tidak dapat berprestasi, apalagi untuk pemain putri. Kedua, dia pemain yang dapat dikatakan bermain dalam tiga generasi, generasi Susy Susanti-Ye Zhouying, generasi Gong Zhi Chou dan generasi Xie Xinfang. Sesuatu yang sangat sulit dilakukan pemain lainnya. Lihat saja Mia Audina, Camilla Martin, Dai Yun, Gong Ruina dan Zhou Mi yang sudah sangat stagnan prestasinya, bahkan beberapa sudah menggantungkan raketnya. Ketiga, dilingkungan pelatnas China sendiri sudah sangat terkenal kompetisi yang ketat untuk para pemain untuk tetap bertahan dalam tim nasional. China sangat terkenal dengan regenarisnya, mungkin karena stok pemain yang melimpah ruah disana. Beberapa nama yang dulu diatas Zhang Ning sudah lama terdepak, seperti Wang Chen dan Zhou Mi yang sekarang membela Hongkong. Pi Hong Yan, Xu Huawen dan Yao Jie yang memilih hijrah ke daratan eropa karena tersingkir dari kompetisi yang ketat di China.

Agaknya semangat Zhang Ning dapat menjadi inspirasi para pemain lainnya untuk dapat bangkit dari keterpurukan dan mimpi buruk, tidak mudah menyerah dalam setiap pertandingan, konsisten dan menikmati setiap poin dan tetap berprestasi walaupun usia tidak muda lagi. Tahun 2008, Zhang Ning menggantungkan raketnya setelah mendapatkan medali emas olimpiade Beijing. Dia meninggalkan arena dengan kepala tegak dan tidak ada rasa penyesalan, dia telah menorehkan sederet prestasi atas nama pribadi dan negaranya. Selamat jalan Zhang Ning….!

Referensi:
Wikipedia

One response to “Zhang Ning: Sang Anomali Pemain Badminton

  1. Setelah gantung raket dan berprofesi sbg pelatih, Zhang Ning mulai menelorkan Wang Yihan, yg saat ini prestasinya juga meroket dgn menjuarai 3 turnamen berturut2, German GP, All England dan Swiss SS 2009.

    Thank for your response and valuable information…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s