Metamorfosis PKS

Sebagai seorang PNS, saya memang tidak dibolehkan aktif berpolitik, sebagai kader apalagi nyaleg…namun disadari atau tidak, politik adalah bagian dari kehidupan kita, tak peduli profesi orang tersebut, kita harus aware sedikit tentang politik tanah air kita..makanya pengen juga nulis sedikit masalah politik dalam blog pribadiku ini…

Tulisan ini pun hanya sebagai gambaran persepsi pengamat kecil2an yang hanya punya hak nyoblos saja, yang dapat info nya dari media massa, yang mungkin saja bias, tapi karena itulah maybe persepsi2 orang yang kayak saya ini lebih dapat merepresentasikan realita, kata orang marketing: tak ada yang salah dengan persepsi seseorang, kesalahan ada dalam PR dalam mem-brand image kan, dalam mengkomunikasikan secara benar..

PKS, yang dicikal bakali dengan Partai Keadilan, diawal kemunculannya bagi saya sangat menjanjikan, karena partai ini lahir dari para aktivis masjid plus kampus, yang kala itu gencar2nya melakukan tarbiah di kalangan mahasiswa, sehingga idealisme masih kuat melekat. Beberapa aktivis yang saya kenal dari kampus saya, yang saya ketahui sangat mensupport aktivitas PK, memang terbukti istiqomah (baca: tidak tergiur korupsi) setelah nyemplung dalam komunitas kantor kami yang bener2 saat itu sangat jahiliah. Oleh karena itulah, ada keyakinan tersendiri bagi saya, bahwa partai ini diisi oleh orang2 yang bener2 bersih sehingga berkespektasi lebih partai ini akan dapat merubah perilaku para anggota legislatif as well as para eksekutif..kekagumanku saat itu ditambah lagi perilaku para kader yang saat itu sangat santun, tercermin saat mereka kampanye yang mengambil salah satu lajur sehingga tidak menimbulkan kemacetan, hal yang saat itu sangat langka dilakukan kader partai lain yang sangat arogan dan brutal..maybe saat itu kadernya masih sedikit jadi bisa diatur.. 

Perkembangan selanjutnya PK bermetamorfosis sebagai PKS, karena PK tidak lolos electoral treshhold 2.5%, yang dalam pemilu 2004 menjadi rising star bersama dengan partai demokrat. Euforia PKS yang digadang-gadang sebagai partai masa depan terus berlanjut, namun sebagai pengamat kecil2an, saya sedikit mengelus dada (baca-sedikit menelan kekecewaan) ketika diawali dengan target 20% suara. berbagai hipotesa menggelitik benak saya berikutnya, apakah PKS akan melakukan “berbagai upaya”, seperti yang lazimnya dilakukan parpol lain dalam usahanya mengegolkan targetnya?, apakah PKS juga berorientasi kepada kekuasaan, bukan berorientasi kepada dakwah? kekuasaan untuk dakwah or dakwah untuk kekuasaan? (sami mawon) apakah kinerja para wakil2 rakyat dari PKS benar2 well-performance?

Jawaban2 pertanyaan saya selanjutnya sedikit2 terjawab dari beberapa pilkada yang juga diikuti oleh PKS. Dimulai dari pilkada DKI Jakarta, PKS mengusung Adang Daradjatun. Entahlah, pola pikir apa dibenak para anggota majlis syuro PKS sehingga nama ini yang muncul. Saya meyakini diri saya sendiri bahwa saya ini tidak bodoh2 amat. Nama Adang, di wilayah tempat saya bekerja, disinyalir sebagai salah satu pertinggi TNI Polri yang punya rekening yang na’udzubillah. Dengan kasat mata sendiri sebenarnya dapat dilihat dari jumlah harta kekayaan yang dipublikasikan KPUD yang “be questioned” darimana sumbernya secara beliau hanyalah “abdi negara dan rakyat” saja…kalau calon wakil gubernurnya bolehlah masih bisa dipercayai, bersahaja, dan sederhana…Apa pertimbangannya, sampai saat ini saya sendiri tidak tahu, apa mungkin para petinggi PKS berpikir tidak penting untuk menjelaskan ke publik?

Pilkada berikutnya, pilkada Jawa Barat. Masih jelas dalam ingatan saya, bahwa sebelum Ahmad Heryawan maju sebagai Calon Gubernur, para petinggi PKS “sangat berharap” Ahmad Heryawan sebagai wakil dari Dany Setiawan, namun sampai tenggat waktu yang diberikan PKS, Golkar memilih calon wakil gubernur lainnya, yang memaksa Ahmad Heryawan maju bersama dengan Dede Yusuf. Hal yang perlu dicermati sekali lagi, bahwa PKS tidak melihat track record Dany Setiawan sebagai incumbent yang meninggalkan beberapa catatan miring. Apakah itu tidak penting bagi image PKS? atau sekali lagi kekuasaan lebih penting? Kedua, PKS seperti tidak pede dengan kadernya sendiri yang saya pikir jauh lebih bagus kualitasnya..

Yang paling parah, adalah pilkada Jawa Tengah yang mengusung Sukawi Sutarip, yang na’udzubillah disinyalir banyak bermasalah (entah benar apa tidak), tapi yang jelas PKS tidak bersikap tegas, yang muncul kemudian statemant yang sering saya dengar dari mantan pejabat orde baru, “asas praduga tak bersalah”, “jangan menjudge sebelum ada keputusan hakim yang tetap”…weleh-weleh..petaka apa ini? untungnya pasangan ini tidak memenangi pilkada… beberapa sumber mengatakan beberapa kader memboikot tidak memilih pasangan ini…sesuatu yang luar biasa secara kader PKS dikenal “sami’na wa atho’na” terhadap keputusan para anggota majlis syuro…sesuatu yang dianggap “kekuatan” partai ini, tapi saya melihatnya sebagai “kekuatan dan juga kelemahan” karena mematikan nilai kritis para kadernya..

Memang untuk menang perlu beberapa strategi yang kadang susah atau tidak perlu dijelaskan ke publik, seorang teman bilang bahwa pemilihan seseorang untuk jadi calon gubernur/bupati/walikota telah dipertimbangkan matang2 dengan skenario terbaik, maybe diantara calon tersebut memang buruk, tapi dia yang paling baik diantara yang buruk…hmmm..entahlah, bagaimana kriteria untuk menentukan bahwa pasangan tersebut yang terbaik, saya juga tidak tahu..

Dalam beberapa wacana yang digulirkan politisi muda PKS seperti masalah pluralisme dan partai terbuka memang saya setuju, karena bagi saya pluralisme adalah suatu keniscayaan, suatu kenyataan bahwa di Indonesia ini hidup bermacam suku, adat, agama bahkan di satu agama sendiri ada beberapa manhaj yang perlu banget sikap toleransi. Untuk menjadi parpol yang besar harus bisa mengusung isu pluralisme dan keterbukaan, namun demikian jangan sampai kebablasan, kaderisasi dan pembinaan tentang good governance yang sifatnya universal harus disiplin dilakukan sehingga parpol tidak disusupi para maling dan penjahat krah putih..

Kinerja anggota dewan dari partai inipun nyaris tak terdengar gaungnya, dalam beberapa hal krusial seperti masalah BLBI, malah cenderung pro status quo..entah apa pula behind the scenario…..

Perjalanan PKS ke depan masih panjang, banyak hal yang harus dipertimbangkan masak2 sebelum mengambil suatu keputusan. Harus diingat, dari beberapa survey yang telah dilakukan, parpol ini dipilih oleh orang perkotaan yang (maaf) cenderung lebih intelek dan melek politik. Salah ambil keputusan akan berakibat fatal ke perolehan suara partai ini. Beberapa orang yang sebenarnya potensial sebagai kader PKS masuk dalam komunitas islam yang dikatakan “garis keras” seperti HTI yang “mengharamkan berpolitik”..Kemudian kalau orang2 yang kritis tidak diberikan jawaban yang memuaskan tentang manufer politik PKS, maka bukan hal yang tidak mungkin dapat memunculkan pikiran bahwa “semua parpol sama saja” yang imbasnya akan mengurangi raihan suara PKS.

Satu even lagi yang perlu dicermati kedepan adalah pemilihan presiden dan wakil presiden, naga-naganya neh dari beberapa komentar para politisi PKS, Hidayat Nuw Wahid akan disandingkan sebagai wakil presdien dari Megawati Soekarno Putri. Kalau hal ini terjadi, siap2 saja PKS ditinggalkan konstituen awalnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s