Fenomena Artis Berpolitik

Kalau dahulu di jaman orde baru artis sekedar hanyalah pajangan sebagai get voter , maka dalam era yang serba kebablasan ini, artis naik kelas sedikit, menagih sumbangsihnya, berpartisipasi aktif dalam berpolitik baik sebagai caleg ataupun ikut2an dalam pilkada sebagai calon gubernur/wakil gubernur, atau calon bupati/wakil bupati, atau calon walikota/wakil walikota. Entah terinspirasi oleh Ronald Reagen atau Joseph Estrada, mereka berbondong-bondong berpolitik. Atau mungkin terinspirasi tayangan TV sekarang yang serba instan dan kagetan, seperti seorang pelawak atau pemain film/sinetron yang latah ikutan variety show untuk bisa menjadi penyanyi dengan suara ala kadarnya (baca: parah), atau seperti Tukul yang jadi host ala kadarnya, sekedar lucu2an…Entahlah..

Kemunculan artis yang muncul dalam jagat berpolitik dimulai oleh para senior mereka seperti almarhum Sophan Sophiaan dan Marissa Haque (PDIP sekarang nyebrang ke PPP), Komar, Adjie Massaid dan Angelina Sondakh (Demokrat), Emilia Contessa (PPP), Dede Yusuf (PAN) yang sukeses pula menjadi wakil gubernur Jawa Barat dan Rano Karno (wakil bupati Tangerang). Beberapa yang sudah aktif di tingkat kepengurusan seperti Nurul Arifin (Golkar) dan Rieke Dyah Pitaloka (dulu aktif di PKB sekarang nyebrang ke PDIP).

Dari daftar nama caleg yang terekspos media massa, PAN laga2nya perlu diberi award atas keberhasilannya mengangkat banyak selebritis sebagai calegnya, bahkan menampik peran2 kader yang telah sekian lama bergelut membesarkan parpol tersebut. Beberapa nama yang muncul seperti Eka Sapta Nugraha, Mara karma Thaib, Ir. H. Adrian Maulana Djambek, Mesayu Aliza S.P (Ita Mustafa), Popy Maretha, Irene Librawati, Drs Ahmad Zulfikar Fauzi (Ikang Fawzi), Maylaffaiza Wiguna, H. Mandra YS, Henidar Amroe, Raslina Rasidin, Derry Drajad, Lucky Emuardi AR, Marini KS (Marini Zumaris), Ferry Soraya, H Taufik Hidayat (Tito Sumarsono), Primus Yustisio, Sri Wulandari (Wulan Guritno), Cahjono, Intan Savila, Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio), semuanya berafiliasi ke PAN. Sementara Golkar siap mengusung Jeremy Thomas, Tantowi Yahya, dan Nurul Arifin. PPP juga tidak mau kalah mengusung caleg artis seperti Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati, Feryy Irawan, Evi Tamala (Cucu Suryaningsih), Mieke Wijaya, Emilia Contessa, Marissa Haque Fawuzi, Kristina, dan Denada. Sementara Demokrat menampilkan Venna Melinda, Tere, Angelina Sondakh, dan Adjie Massaid. Partai Damai Sejahtera tak ketinggalan menyelipkan nama2 seperti Thessa Kaunang, Ricky Jo, Tamara Geraldine, dan Ronny Pangemanan. PDIP: Miing Bagito, Rieke Dyah Pitaloka, Eddo Kondologit, dan Sonny Tulung.

Jika ditilik dari nama2 diatas, hanya sedikit yang sebenarnya punya bakat berpolitik, tercermin dari jawaban2 mereka menanggapi isu2 publik yang ditanyakan, walaupun tidak se-smart politikus kawakan, tapi bolehlah..seperti Nurul Arifin, Angelina Sondakh dan Rieke Diah Pitaloka, selebihnya terlihat gagap menaggapi isu2 penting, jawabannya masih berputar hal2 yang normatif dan general, sebagian besar malah latah selalu mengangkat isu budaya…

Sebenarnya sah2 saja seh mereka berpolitik, karena berpolitik adalah hak setiap warga negara dan dijamin dengan undang-undang dasar. Mungkin mereka begitu disorot karena kiprah mereka sebagai public figure yang telah dikenal banyak orang sehingga sedikit banyak tahu kapaistas dan track record mereka. Padahal kalau ditelusuri lebih lanjut, lebih banyak caleg2 yang bermasalah, dari yang asal comot yang tidak ada kapasitasnya, para koruptor, caleg yang bermodal duit yang menyogok parpol sehingga dapat nomor urut atas, dsb.

Permasalahan berikutnya yang sering dipertanyakan adalah soal kapasitas mereka. Mereka harus dapat menunjukkan bahwa mereka tidak sekedar “latah” berpolitik tapi memang mereka mampu. Sayangnya, berpolitik tidak dapat dipelajari satu atau dua hari atau hitungan bulan. Tidak ada jalan pintas dalam berpolitik, harus merangkap dari bawah, ikut dalam kepengurusan organisasi dari level yang bawah, karena berpolitik memerlukan beberapa skills seperti kemampuan untuk mendengar dan menyerap aspirasi rakyat dan kemudian mampu untuk menyampaikan dan meyakinkan eksekutif, kemampuan bernegosiasi, memanage organisasi, beropini, fight dalam diskusi2, mengetahui masalah tata negara, perumusan undang-undang, dsb. Permasalahan bangsa tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghibur semata. Agaknya hal ini yang tidak disadari penuh oleh mereka.

Jangan-jangan mereka hanya dimanfaatkan oleh parpol, untuk sekali lagi sebagai pengumpul suara, atau lagi-lagi mereka terjebak dalam instanitas program TV yang lagi marak akhir2 ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s