Bertemu “Ki Joko Bodho” di Bus Umum

Sudah hampir seminggu ini bus jemputan tidak jalan. Kabarnya, pak pur, supir bus jemputan sedang sakit. Terpaksalah saya naik kereta api dari Pondok Ranji turun di Palmerah, jalan sebentar ke arah kolong dan selanjutnya naik bus patas P6 jurusan Grogol-Kampung Rambutan turun di Jembatan Penyeberangan depan kantor.

Ada kejadian yang sedikit membuat sport jantung ketika saya naik patas P6. Begitu saya masuk bus saya melihat bus sudah sarat dengan penumpang. Pikirku, tidak masalah kalaupun berdiri karena jarak kantor tidak terlalu jauh. Beberapa orang sudah bergelantungan di pinggir pintu masuk. Saya arahkan pandangan saya ke bagian belakang, oh alhamdulillah ternyata masih ada yang kosong. Deretan tiga kursi baru terisi satu orang. Terbesit tanya sepintas dalam hati, “mengapa ya beberapa orang ini tidak mengambil tempat duduk disitu tetapi bergelantungan di pinggir pintu?”, tetapi dengan cepat jawaban dari sisi hati yang lain “oh mungkin mereka turun sebentar lagi”..tanpa ragu-ragu saya beringsut ke arah kursi tersebut.

Pandangan saya tertuju pada orang yang duduk di pojok deretan tiga kursi tersebut. Seorang lelaki paruh baya yang dekil tanpa ekspresi dengan posisi duduk yang seenaknya. Pakaiannya yang lusuh tanpa atribut apapun yang menandakan dia akan bekerja. Yang ada ditangannya hanyalah selembar koran yang ia pelototi, sekali lagi tanpa ekspresi. Sesekali tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang rambutnya sedikit gimbal itu. Saya agak ragu-ragu duduk disampingnya. Sekali lagi tanpa ekspresi menyadari ada orang duduk disampingnya. duduknyapun masih seenaknya. Saya merapatkan tas saya dengan kedua tangan saya. Handphone dan dompet sudah sedari awal saya taruh di dalam tas.

Bus pun perlahan-lahan bergerak pelan diiringi teriakan kernek bus dengan uang logam ditangannya sekali-sekali meminta sang sopir untuk menunggu berharap masih ada penumpang lainnya dengan memukulkannya ke kaca ataupun dinding bus sekenanya.
Saya masih saja waspada.

Satu-dua penumpang ada yang turun di halte dekat BNI Gatot Subroto, namun langsung diganti oleh beberapa orang yang naik berikutnya. Mataku tiba tertumbuk pada sesosok wajah yang terhuyung-huyung masuk ke dalam bus. Matanya nanar merah menyapu isi dalam bus. Menyadari dideretan kursi tempat saya duduk masih kosong satu diapun segera beranjak. Rambutnya yang gondrong kecoklatan dan kotor menyapu sebagian wajahnya. Bajunya coklat, tapi pada dasarnya adalah berwarna putih. Entah sudah beberapa hari orang ini tidak mandi, pikirku. Tubuhnya kurus kering dan wajahnya tirus. Sepintas lalu mirip paranormal Ki Joko Bodho tapi saya meyakini bukan dia, hanya mirip saja. Dan dia semakin mendekat. Jantung ini sedikit berdegup. Disorongkan badanku ke tengah, tanpa sepatah katapun, meminta aku duduk di tengah. Saya tanggap segera berdiri mempersilakan dia untuk duduk ditengah saja. Sorot matanya yang merah tajam menatapku, seakan dia tidak senang duduk di tengah. Tapi untungnya dia mau juga duduk di tengah.

Sang kernek bus mulai memintai ongkos ke tiap penumpang. Cukup 2000 rupiah saja per orang. Uang 2000 sudah saya persiapkan di saku saya dari awal masuk bus sehingga ketika bunyi gemericik uang logam dari tangan sang kernek saya tinggal menjulurkan tangan saya dengan uang 2000 rupiah. Ketika sang kernek menyodorkan tangan ke arah orang yang mirip Ki Joko Bodho ini, saya melihat orang yang mirip Ki Joko Bodho ini hanya menatap tajam. Tiga gerakan tangan sang kernek mengencrengkan uang logam di tangannya hanya dibalas dengan tatapan tajam menusuk. Dan sang kernekpun berlalu seakan tidak mau mendapatkan masalah. Saya sudah sedikit canggung duduk disampingnya berharap dapat pindah bangku. Tapi sayangnya semua penuh.

Bus P6 sudah sampai di Semanggi dan di tempat tersebut banyak penumpang turun, hampir sepertiganya turun disitu. Wah ini kesempatan saya pindah ke depan dekat pintu sekalian siap-siap untuk turun di jembatan. Sepintas saya melirik orang yang mirip Ki Joko Bodho ini. Tatapannya masih tajam, merah membara. Sepintas saya mendengar gumam sang kernek dan sopir, sepertinya mereka membicarakan beberapa orang aneh di busnya. Suara sang sopir yang terdengar jelas “jangan ambil masalah”….

Bus sudah mendekati jembatan dan saya siap-siap berdiri di dekat pintu mempersiapkan kaki kiri saya menyentuh aspal karena biasanya bus hanya menurunkan laju kecepatannya sebentar untuk memberi kesempatan penumpang turun. Dan denting uang logam sang kernek di besi pegangan tangan bus memaksa sang sopir menurunkan laju busnya dan kaki kiri saya sigap mendarat diikuti kaki kanan saya dan benar saja bus langsung melaju cepat kembali.

Alhamdulillah pikirku. Segera saya menaiki jembatan penyeberangan ke arah kantorku. Saya lihat ke belakang sejenak…
Oh, my god, orang mirip Ki Joko Bodho ternyata ada di belakangku…

6 responses to “Bertemu “Ki Joko Bodho” di Bus Umum

  1. Ceritanya udahan, berarti Ki Joko Bodo gak sempet ngeluarin ilmunya sama Mas kan?

  2. papahnyalazuward

    Rada parno aja seh…wah bahaya tuh kalau ngeluarin ilmunya…paling banter cuma bisa ngelawan make ayat kursi

  3. WOW…! kalau bener Dia Ki Joko Bodho kenapa tidak minta di ramal Mas…?

  4. papahnyalazuward

    He he..bukan Ki Joko Bodho kok mas..cuma mirip doang…

  5. wah, memang bener, saya pernah ketemu KJB di bandara, anak saya malah berjalan ke arahnya sambil senyum2…ternyata saya agak gemetar tuh…ampun deh, padahal biasa aja harusnya..salam kenal, saya orang purbalingga juga…

  6. papahnyalazuward

    Salam kenal juga mba Devi…maturnuwun sampun mampir teng blog kulo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s