Yuk, Mari Menilai Kualitas Shalat Kita Sendiri..

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Ankabut, 29: 45) 

Firman Allah diatas sudahlah sangat familiar bagi kita. Dari firman Allah tersebut, jelaslah bahwa shalat merupakan salah satu solusi untuk dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Tapi pertanyaan yang mungkin ada di benak setiap orang dan ini merupakan suatu fakta bahwa ternyata di negara kita, contohnya, para umara kita yang notabene adalah muslim dan mengerjakan shalat tapi tetap saja melakukan perbuatan keji dan munkar seperti korupsi dan kolusi. Aha…kalau itu terlalu jauh contohnya dan terlalu menjudge orang lain, kita sendiri sajalah contohnya. Seringkali sehabis shalat kita sudah langsung disibukkan dengan perbuatan yang dinisbatkan sebagai perbuatan yang tercela, misalnya bergunjing, mencela orang lain, melihat yang bening2 hmmm, marah2 dsb…(kalau korupsi Insya Allah sudah nggak ya, kan sudah modern he he…awas loh kalau masih ada yang korupsi…..!!!!) bahkan, tak jarang dalam ritual sholat itu sendiri, hati kita sudah berpetualang mendekati arasy perbuatan keji dan munkar… Mengapa itu bisa terjadi?? Yuk, mari kita menilai diri sendiri kualitas shalat kita, Insya Allah kualitas shalat yang tinggi akan dapat mengeliminasi perbuatan keji dan munkar… 

Kualitas Pertama, sebagian dari kita masih dalam taraf “shalat untuk menggugurkan kewajiban”. Ini bukan sesuatu yang absolut salah dalam islam. Karena yang saya tahu islam tidak mempersulit umat-Nya dalam melaksanakan ajaran islam sesuai dengan kemampuannya. Kalau kemampuan pemahaman masih dalam taraf itu ya laksanakan saja. Soal pahala dan dosa adalah hak mutlak Allah ta’ala bukan?? Konsekuensi dari tingkat pemahaman ini adalah shalat masih menjadi sesuatu beban, perasaan tidak tenang kalau belum menunaikan shalat pada waktunya, shalat hanya suatu irama gerakan yang bagus untuk kesehatan (ada loh penelitiannya) dan mungkin juga sebagai sarana pengingat kepada Allah walaupun singkat dan padat serta shalat sebagai identitas orang islam.  

Kualitas kedua, Sebagian dari kita maybe sudah naik kelas dengan mencoba shalat secara khusyu. Sholat bukan hanya sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi sudah merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Ada sesuatu yang hilang dari diri kita jika tidak menunaikan shalat. Tingkat khusyu’ itu pun bertingkat-tingkat, ada yang menit pertama masih khusyu kemudian menit berikutnya hati sudah berpetualang liar kemana-mana, ada juga yang sampai akhir shalat bisa berkhusyu’ ria. Hal yang membedakan dengan kualitas yang lebih tinggi adalah hal pahala dan dosa serta pemahaman personifikasi Allah. Kegiatan shalat masih terbelenggu dengan pahala dan dosa, mereka melakukan shalat masih pamrih dengan pahala dan untuk meningkatkan kualitas kekhusyu’an mereka seringkali merasa dirinya diawasi Allah ta’ala dari atas. Kita sudah terbiasa dengan kalimat “yang di atas sana maha tahu”..atau kalimat yang sejenis, dan seringkali imajinasi yang ada adalah Allah dengan sosok yang berada di langit sana…konsekuensinya Allah masih jauh dari diri dan hal ini juga tidak salah, kembali lagi ini adalah perkembangan pemahaman seseorang yang Insya Allah berproses. 

Kualitas Ketiga, sebagian dari kita sudah melepaskan belenggu pahala dan dosa. Shalat dilakukan bukan karena pamrih atas pahala Allah ta’ala tetapi lebih pada keridha’an Allah semata. Sudah tugas kita di bumi untuk beribadah kepada-Nya (inna kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun). Shalat dijadikan ajang untuk curhat, bertaqarrub dan bercengkerama antara khaliq dan makhluqnya. Ciri yang melekat adalah mereka menghadirkan Allah dalam hatinya, sehingga Allah adalah sangat dekat sekali. Kelapangan dan ketenangan hatilah yang dituju dari hasil ridha Allah tersebut dan dengan sendirinya sifat-sifat yang tercela dalam hati akan terbakar dan hilang dan Insya Allah perbuatan keji dan munkar yang sejatinya bersumber dari bisikan hati tersebut akan terleminasi. Yah, semoga kita dapat berproses kearah kualitas shalat yang lebih baik… 

Papahnya lazuward

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s