Tangan-Tangan Kasar Itu Membuatku Malu..

Ritual yang wajib diadakan di kampungku setelah sholat ‘iedul fitri dimasjid adalah saling salam-salaman sekampung dari yang tua yang jalannya mesti dipapah sampai yang anak-anak, tentunya dihijab antara laki-laki dan perempuan…ritual itu diiringi dengan tetabuhan beduk bertalu-talu dan takbiran…dari ritual itu saya bisa bertemu dengan orang kampung yang sudah lama tidak pernah bersua…termasuk kaki jawad yang sekarang sudah bongkok dan berkeriput yang dulunya amat kekar memanggul dan menggendong saya dan kakak-kakakku. Ada cerita mengharukan dari ibu bahwa kaki jawad ini sangat berjasa sekali, dulu sekitar akhir tahun 1970an transportasi di tempat kami sangat susah, parahnya puskesmas adanya hanya di kota kecamatan yang jaraknya 10an km, untuk mencapainya harus naik turun bukit, menyeberangi beberapa sungai dan lewat sabuk (alas kecil), kebetulan kakak saya sering sakit, ya kaki jawadlah yang membantu menggendong kakak saya tersebut ke kota, bayangkan saja..makanya ibu selalu menekankan untuk jangan melupakan kaki jawad, kita yang muda-muda kalau lebaran disuruh silaturahmi ke rumahnya..

Kembali lagi ke acara ritual tersebut, begitu khotib sholat ‘iedul fitri selesai, orang-orang berebutan ke depan sekedar untuk dapat bersalaman terlebih dahulu, dan itu terjadi tiap tahun…kalau saya lebih memilih di belakang saja yang agak longgaran. Dan ritual salam-salaman dimulai, dari sesepuh desa satu persatu jalan menyalami deretan orang yang berbaris rapi sampai depan pintu masjid..biasanya saya tak melewatkan moment itu, saya pandangi wajah-wajah itu terutama yang tua-tua, dan hampir wajahnya sudah susah saya kenali sudah termakan usia, terbakar teriknya mentari di sawah, tergerus kesulitan hidup..

Dan jabatan satu persatu berlalu…yang saya rasakan adalah kasarnya tangan-tangan itu bapak-bapak desa, ya kebanyakan berkapal, menandakan mereka adalah pekerja keras…yang telah menghabiskan hari2nya di sawah dan kebun…sejenak saya tercenung..saya pandangi mereka..oh ya Allah mereka begitu tangguh melawan kerasnya kehidupan, wajah yang keras tapi polos dan ikhlas, pastinya mereka telah berjuang keras untuk menghidupi anak dan istrinya…sekitar dua tahun yang lalu aku pernah bertanya kepada ibu, berapa seh upah tukang di kampung?? ibu menjawab, ya biasanya sekitar Rp 10.000,- satu orang, itu yang paling cepat dan bagus hasilnya..saya hanya menghela nafas panjang, sempat saya memprotes kok kecil amat…tapi itu sudah harga pasaran kalau dinaikkan nantinya mengganggu mekanisme pasar..begitulan kira-kira jawaban secara teori ekonominya… Sebenarnyalah saya malu ketika bersalaman dengan mereka, bukan karena tangan saya terlalu halus, bukan… tapi saya merasakan kurangnya rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan, dan perwujudan rasa syukur saya juga kurang..saya masih bisa bekerja di kantor ber AC, duduk di depan komputer, tapi terkadang masih menuntut yang lebih…satu pertanyaan yang terkubur dalam hati, bisa nggak ya saya merubah nasib-nasib petani di kampung itu?? 

Dan satu per satu tangan mereka terlepas dari jabatan, entah apakah saya masih dapat melihat wajah keras dan jabatan tangan kasar itu tahun depan atau tidak?? 

Semoga masih..

Papahnya Lazuward   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s