Nilai Rasa yang Tertinggi

Acapkali ketika orang-orang ditanya apa yang paling diinginkan atau apa yang dicari atau apa tujuan hidup di dunia ini mereka menjawab yang paling kami inginkan, yang kami cari adalah kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mengukur kebahagiaan tersebut?? jawabannya pun beragam, kami bahagia jika kami sehat, punya rumah, punya suami/istri/anak, punya banyak uang, mobil, harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi… Benarkah jawaban tersebut?

Yup, jawabannya benar karena jawaban tersebut lahir sesuai dengan tingkatan pemahaman orang tersebut tentang nilai rasa yang ia anggap paling tinggi. Tidak ada yang salah dalam hal ini dan tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan jawaban tersebut. Hakikinya “rasa” adalah semata permainan dunia. Ketika orang mendapatkan anak keturunan ia bahagia, ketika anaknya sakit atau meninggal ia sedih, ketika istri/suaminya berselingkuh ia marah dan kecewa, ya begitulah permainan rasa tak tertebak kemana ia bergerak, bahkan ketika sedang duduk dan tidak ada kejadian penting apapun dalam hidupnya, “rasa” bisa hadir menyeruak menawarkan kesedihan, kesepian dan keresahan. Dalam satu detik rasa bahagia bisa berubah menjadi rasa sedih atau marah. Seseorang, misalnya, ketika mendapatkan anak keturunan, dia sangat bahagia sekali, tapi begitu dilihatnya anaknya cacat, perasaan berubah jadi sedih. Aneh bin ajaib… Lalu kalau rasa bahagia sendiri dapat sedemikian cepatnya berubah jadi rasa sedih, apakah ia layak dibilang sebagai nilai rasa yang tertinggi?? Kembali lagi ini tergantung dari tingkat pemahaman seseorang, tidak ada paksaan atau doktrinasi. Dalam sufi dikenal dengan istilah rasa tenang (nafs muthmainnah). “Yaa ayyuha nafsul muthmainnah irji’i ila robbika rodliyatan mardhiyah”. Allah memanggil makhluknya dengan “wahai jiwa2 yang tenang” bukan “wahai jiwa2 yang bahagia”. Rasa tenang adalah nilai rasa yang tertinggi melalui pencapaian proses taqarrub kepada Allah. Bagaimana mencapai rasa tenang dengan bertaqarrub kepada Allah?? “inna dzikrallahi tathmainnul quluub”. Sesungguhnya mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Seseorang yang telah mencapai rasa tenang, ketika mendapatkan jabatan, harta, keturunan ia merasa tenang, pemahaman baginya semuanya hanyalah titipan semata, dia hanya berkewajiban menjaga amanah tersebut, tidak ada permintaan atau doa untuk diamanahi hal-hal tersebut dan dia siap sewaktu-waktu Penitip akan mengambil hal-hal yang dititipkannya. Ketika terjadi pengambilan amanah oleh sang Penitip, maka hanya ada rasa tenang dalam hatinya. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang dapat mencapai nilai rasa tenang…amien…Papahnya Lazuward

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s