it’s me

Entries categorized as ‘Spiritual’

Welcome Ramadhan

Agustus 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Time passes away swiftly. As if yesterday we said ‘goodbye’ to Ramadan, now the holy month is about to reach us again. Especially for this year, I commit the fasting in overseas, Australia, far away from my family. It may be little bit need to struggle facing a temptation during the Ramadan. Here there is no atmosphere of welcoming Ramadan like in Indonesia. Everything goes in normal way like other common days.

From the deepest of my heart, of course, there is a hope to increase the level of my worship. In this mercy, benevolence and blessing month, everything is valuable, even just sleeping. Regarding to achieve it, some notes I ‘ve made as a guidance. Hopefully, it can be implemented well. Firstly, I want to clean my heart up by invoking Him for the forgiveness often and often. Secondly, obeying what He obliges to His creatures. Thirdly, keeping my tongues against unworthy words, and my eyes from such unworthy scenes and my ears from such sounds that should not be heard. Fourthly, Reciting the holy Qur’an as best I can. Then, I want to love and make my family, my relatives, my friends, and all people around me happy.

By commencing Ramadan, Insya Allah on Saturday this week, let me say..please forgive me for all my mistakes..and let us come up with the new life….

Kategori: Spiritual

Would you mind sharing ‘your plate’?

Desember 11, 2008 · 1 Komentar

biggestmenu1 Habitually after recitation of the confession of the faith (such as tahlilan and mauludan) in the Majlis, the host serves several big plates contained ‘kebuli’ rice, roasted goat meat, ‘kerupuk’ , ‘acar’ and fruits that is divided into several groups. One group consisted of 3 or 4 people and ate together in one big plate.

For the first time, I felt repugnant looking at people taking rice with their fingers (without spoon and fork) from the same plate and I prefered to just take a fruit rather than eating rice together..

Unrealizingly, my spiritual teacher (ustadz) noticed me and one day asked me why i didn’t join eat together with other people..at that time I said that I had eaten just before going to the majlis..(oh..I ‘m sorry for lie)..but I was not able to keep lie after several times I always didn’t join..

Finally I admitted that I didn’t have a habit eating together in one plate and wisely my teacher replied that it was okay if I didn’t mind eating together and I could take a plate separately..

Furthermore, even the contains of discourse didn’t straight forward to me but I perceived it was for me..He said that sometimes human being felt more valuable or higher than others in many aspects of life, such as income, position, group ethnic, etc. that restricted to feel togetherness. It should be gazed and to be understood from your conscience that we are all the same in Allah valuation except for faithfull degree to Allah ta’ala..The feeling of disgusting showed that we need to extra effort to clean our heart by dzikrullah to make more pure our heart…

In the later week, I tried to control my heart by dzikrullah and joined together with other people eating together in one big plate looking at the rice grains fell down from the fingers interspace..

It is true that we are all the same..How about you??

Source of picture: www.biggestmenu.com

Kategori: Resonansi · Spiritual

Yuk, Mari Menilai Kualitas Shalat Kita Sendiri..

Februari 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Ankabut, 29: 45) 

Firman Allah diatas sudahlah sangat familiar bagi kita. Dari firman Allah tersebut, jelaslah bahwa shalat merupakan salah satu solusi untuk dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Tapi pertanyaan yang mungkin ada di benak setiap orang dan ini merupakan suatu fakta bahwa ternyata di negara kita, contohnya, para umara kita yang notabene adalah muslim dan mengerjakan shalat tapi tetap saja melakukan perbuatan keji dan munkar seperti korupsi dan kolusi. Aha…kalau itu terlalu jauh contohnya dan terlalu menjudge orang lain, kita sendiri sajalah contohnya. Seringkali sehabis shalat kita sudah langsung disibukkan dengan perbuatan yang dinisbatkan sebagai perbuatan yang tercela, misalnya bergunjing, mencela orang lain, melihat yang bening2 hmmm, marah2 dsb…(kalau korupsi Insya Allah sudah nggak ya, kan sudah modern he he…awas loh kalau masih ada yang korupsi…..!!!!) bahkan, tak jarang dalam ritual sholat itu sendiri, hati kita sudah berpetualang mendekati arasy perbuatan keji dan munkar… Mengapa itu bisa terjadi?? Yuk, mari kita menilai diri sendiri kualitas shalat kita, Insya Allah kualitas shalat yang tinggi akan dapat mengeliminasi perbuatan keji dan munkar… 

Kualitas Pertama, sebagian dari kita masih dalam taraf “shalat untuk menggugurkan kewajiban”. Ini bukan sesuatu yang absolut salah dalam islam. Karena yang saya tahu islam tidak mempersulit umat-Nya dalam melaksanakan ajaran islam sesuai dengan kemampuannya. Kalau kemampuan pemahaman masih dalam taraf itu ya laksanakan saja. Soal pahala dan dosa adalah hak mutlak Allah ta’ala bukan?? Konsekuensi dari tingkat pemahaman ini adalah shalat masih menjadi sesuatu beban, perasaan tidak tenang kalau belum menunaikan shalat pada waktunya, shalat hanya suatu irama gerakan yang bagus untuk kesehatan (ada loh penelitiannya) dan mungkin juga sebagai sarana pengingat kepada Allah walaupun singkat dan padat serta shalat sebagai identitas orang islam.  

Kualitas kedua, Sebagian dari kita maybe sudah naik kelas dengan mencoba shalat secara khusyu. Sholat bukan hanya sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi sudah merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Ada sesuatu yang hilang dari diri kita jika tidak menunaikan shalat. Tingkat khusyu’ itu pun bertingkat-tingkat, ada yang menit pertama masih khusyu kemudian menit berikutnya hati sudah berpetualang liar kemana-mana, ada juga yang sampai akhir shalat bisa berkhusyu’ ria. Hal yang membedakan dengan kualitas yang lebih tinggi adalah hal pahala dan dosa serta pemahaman personifikasi Allah. Kegiatan shalat masih terbelenggu dengan pahala dan dosa, mereka melakukan shalat masih pamrih dengan pahala dan untuk meningkatkan kualitas kekhusyu’an mereka seringkali merasa dirinya diawasi Allah ta’ala dari atas. Kita sudah terbiasa dengan kalimat “yang di atas sana maha tahu”..atau kalimat yang sejenis, dan seringkali imajinasi yang ada adalah Allah dengan sosok yang berada di langit sana…konsekuensinya Allah masih jauh dari diri dan hal ini juga tidak salah, kembali lagi ini adalah perkembangan pemahaman seseorang yang Insya Allah berproses. 

Kualitas Ketiga, sebagian dari kita sudah melepaskan belenggu pahala dan dosa. Shalat dilakukan bukan karena pamrih atas pahala Allah ta’ala tetapi lebih pada keridha’an Allah semata. Sudah tugas kita di bumi untuk beribadah kepada-Nya (inna kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun). Shalat dijadikan ajang untuk curhat, bertaqarrub dan bercengkerama antara khaliq dan makhluqnya. Ciri yang melekat adalah mereka menghadirkan Allah dalam hatinya, sehingga Allah adalah sangat dekat sekali. Kelapangan dan ketenangan hatilah yang dituju dari hasil ridha Allah tersebut dan dengan sendirinya sifat-sifat yang tercela dalam hati akan terbakar dan hilang dan Insya Allah perbuatan keji dan munkar yang sejatinya bersumber dari bisikan hati tersebut akan terleminasi. Yah, semoga kita dapat berproses kearah kualitas shalat yang lebih baik… 

Papahnya lazuward

Kategori: Spiritual

Nilai Rasa yang Tertinggi

Februari 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Acapkali ketika orang-orang ditanya apa yang paling diinginkan atau apa yang dicari atau apa tujuan hidup di dunia ini mereka menjawab yang paling kami inginkan, yang kami cari adalah kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mengukur kebahagiaan tersebut?? jawabannya pun beragam, kami bahagia jika kami sehat, punya rumah, punya suami/istri/anak, punya banyak uang, mobil, harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi… Benarkah jawaban tersebut?

Yup, jawabannya benar karena jawaban tersebut lahir sesuai dengan tingkatan pemahaman orang tersebut tentang nilai rasa yang ia anggap paling tinggi. Tidak ada yang salah dalam hal ini dan tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan jawaban tersebut. Hakikinya “rasa” adalah semata permainan dunia. Ketika orang mendapatkan anak keturunan ia bahagia, ketika anaknya sakit atau meninggal ia sedih, ketika istri/suaminya berselingkuh ia marah dan kecewa, ya begitulah permainan rasa tak tertebak kemana ia bergerak, bahkan ketika sedang duduk dan tidak ada kejadian penting apapun dalam hidupnya, “rasa” bisa hadir menyeruak menawarkan kesedihan, kesepian dan keresahan. Dalam satu detik rasa bahagia bisa berubah menjadi rasa sedih atau marah. Seseorang, misalnya, ketika mendapatkan anak keturunan, dia sangat bahagia sekali, tapi begitu dilihatnya anaknya cacat, perasaan berubah jadi sedih. Aneh bin ajaib… Lalu kalau rasa bahagia sendiri dapat sedemikian cepatnya berubah jadi rasa sedih, apakah ia layak dibilang sebagai nilai rasa yang tertinggi?? Kembali lagi ini tergantung dari tingkat pemahaman seseorang, tidak ada paksaan atau doktrinasi. Dalam sufi dikenal dengan istilah rasa tenang (nafs muthmainnah). “Yaa ayyuha nafsul muthmainnah irji’i ila robbika rodliyatan mardhiyah”. Allah memanggil makhluknya dengan “wahai jiwa2 yang tenang” bukan “wahai jiwa2 yang bahagia”. Rasa tenang adalah nilai rasa yang tertinggi melalui pencapaian proses taqarrub kepada Allah. Bagaimana mencapai rasa tenang dengan bertaqarrub kepada Allah?? “inna dzikrallahi tathmainnul quluub”. Sesungguhnya mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Seseorang yang telah mencapai rasa tenang, ketika mendapatkan jabatan, harta, keturunan ia merasa tenang, pemahaman baginya semuanya hanyalah titipan semata, dia hanya berkewajiban menjaga amanah tersebut, tidak ada permintaan atau doa untuk diamanahi hal-hal tersebut dan dia siap sewaktu-waktu Penitip akan mengambil hal-hal yang dititipkannya. Ketika terjadi pengambilan amanah oleh sang Penitip, maka hanya ada rasa tenang dalam hatinya. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang dapat mencapai nilai rasa tenang…amien…Papahnya Lazuward

Kategori: Spiritual

Setan Ada Dimana-Mana

Februari 18, 2008 · 1 Komentar

pocong2.jpgSerem amat ya title-nya???

Ya itu, karena sedari kecil kita dicekoki oleh gambaran yang menakutkan tentang setan itu. Antara negara satu dengan negara lainnya bisa beda-beda tuh gambarannya. Kalau dinegara kita, ada setan lokal, wewe gombel, kuntilanak, pocong, genderuwo, leak, dll. Kalau di barat lebih terkenal dengan Vampire.

Setan sering diidentikkan dengan tempat dan suasana yang gelap, rumah tua, pohon beringin yang lebat, hutan, dsb. disanalah konon katanya setan tinggal. Apakah benar?? 

Ada sebuah kisah sufistik yang menarik seperti ini untuk menggambarkan setan itu, suatu saat Rasul ketemu dengan setan yang akan mengganggu manusia, karena terdorong oleh Amar Ma’ruf Nahi Munkar dihalang-halangilah setan tersebut sehingga perkelahian tidak terhindarkan dan setan yang sebenarnyalah makhluk yang dhaif itupun kalah dan lari terbirit-birit. Keesokan harinya setan itu datang kembali menggoda manusia. Rasul marah dan menyepelekan setan itu, rasa ujubnya timbul dan diajaklah berkelahi setan tersebut, dan apa yang terjadi, Rasul kalah, Rasul kalah karena niatnya bukan lagi murni amar ma’ruf nahi munkar tapi sudah ada unsur amarah dan sombong…

Lalu perkelahiannya seperti apa? apa perkelahian dalam bentuk fisik. Disinilah cerdiknya para sufi itu, mereka tidak secara vulgar mengungkapkannya..

Ada lagi kelakar atau humor para sufi yang sangat terkenal, ceritanya begini, ketika Allah menciptakan langit dan bumi ada sebuah kunci rahasia yang mau disimpannya yang sangat sulit manusia mengetahuinya, lalu Allah memanggil tiga orang malaikat-Nya, ditanyakanlah pendapatnya dimanakah sebaiknya disimpan kunci itu. Malaikat pertama berkata, sebaiknyalah kunci itu diletakkan di dasar kawah gunung, tidak mungkinlah manusia bisa kesana. Tapi pendapat malaikat satu ini dibantah malaikat dua, manusia suatu saat dengan ilmu pengetahuannya dapat mencapai dasar kawah gunung, lalu dia pun menawarkan pendapatnya, bagaimana kalau di dasar laut, manusia tidak dapat hidup dan bertahan hidup di dasar laut. Malaikat ketiga menyanggahnya, manusia dengan ilmu pengetahuannya akan bisa mencapai dasar laut, dia dengan tenangnya berpendapat, bagaimana kalau kunci itu diletakkan di hati manusia?? manusia tidak akan sadar ada kunci rahasia besar dalam dirinya. Allahpun setuju dengan pendapat malaikat ketiga, maka sejak saat itulah setiap manusia menyimpan rahasia besar dalam hatinya…

bertalian dengan dua cerita sufi diatas, sudahkah kita sadar akan kunci rahasia kita?? apakah anda bisa membukanya??

Ketika anda memasuki pintu hati kita, disitulah sebenarnya dunia ghaib yang maha luas yang tidak pernah kita sentuh, disitulah makhluk yang bernama amarah selalu membakar hati kita yang rasanya panas sekali ketika kita terkenanya, rasa benci yang mengiris-iris hati kita, sedih, gembira.

Coba sekarang berhenti sejenak baca ini lalu tanya ke hati anda, apa yang anda rasakan?? mungkin rasa benci melihat tulisan ini, rasa marah, malas membacanya….hmmm coba ajak saja ngobrol makhluk itu, ajak berdamai. Berdzikir (mengingat)kepada Allah maka makhluk-makhluk itu akan semakin kurus kerontang, ya makhluk-makhluk itulah yang membakar hati kita yang dinamakan setan…setan memang ada dimana-mana…

Papahnya Lazuward  

Kategori: Spiritual