it’s me

Entries categorized as ‘My Family’

Nini Rohmat

Desember 19, 2008 · & Komentar

Sunday, 14 Desember 2009

My little son came with scared face, he talked to me…”nini omat…nini omat”, his little finger pointed to out of house, I was still confused what he said before his uncle said clearly, “Nini Rohmat”…hastely, I came to my mother-in law talking the situation hang by a thread..

Then my mother-in law locked the back door where Nini Rohmat usually went into and after that she went out to meet Nini Rohmat outside of house..

Nini Rohmat is an insane woman who usually come to meet my mother-in law in order to ask something (money, clothes, etc). Actually, her home is quite far, around 3-4 km.

Why we close her access to our house? It doesn’t mean that we don’t appreciate and respect to guests even though she is an insane woman but another ‘illness’ of her is uncontrolled urinate that leads to stench of urine. Her dress is also get wet of urine.

I remember around a year ago, we were all shock when unexpectedly she appeared and came into our house and then sat down on the sofa, after that we had to swab floor and clean up the sofa but the bad smell was not vanish despite we spraid ‘bayfresh’..

I don’t know excatly the name of her illness in science term..

My mother-in law said that she has became insane and has not been able to control her urine since she bore a baby. But surprisingly, she still remember our relatives, despite living in other village and once she went to there…

When my mother-in law talked to Nini Rohmat, I and my son took a peep behind space of the window. I wonder why my son became scared, did he catch the fear from the circumtance?…

At that time, I talked to my son that Nini Rohmat is a human like us, she is also kind so we didn’t need to fear. After that I carried for my son going out close to Nini Rohmat who looked enjoy picking cassava leaves. Then I whispered to my son that everything is okay, she was not dangerous. I looked my son cover his nose with his fingers saying ‘bau’…and I took him keeping away from Nini Rohmat, I just wanted to recovery his trauma..

Kategori: My Family

Ketika Anakku Memanggilku “Bapak”

Maret 3, 2008 · & Komentar

Tak terasa sudah 13 bulan umur anakku. Rasanya baru kemarin ketika saya ajak ia belajar ngaji di perut ibunya dan dia menggelinjang memberi respon. Rasanya baru kemarin ketika cemas membuncah hebat di dada diluar kamar bidan menunggu kelahirannya. Rasanya baru kemarin ketika pekik jerit tangisnya pertama kali mewarnai indahnya dunia ini. Rasanya baru kemarin ketika aku mengalunkan suara adzan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya dan dia menatapku kedinginan.

Alhamdulillah perkembangan anakku berjalan normal dan jarang sekali sakit paling pernah mengalami panas sekali ketika imunisasi yang kedua selain itu pilek2 yang lumrah dialami anak kecil, satu-dua hari alhamdulillah sembuh.

Semenjak masih bayi memang anakku tidak seperti bayi-bayi yang lainnya yang suka menangis, rewel atau bangun di tengah2 malam memaksa orang tuanya begadang dan menggendongnya, anakku alhamdulillah tipe bayi yang tenang, bisa dibilang jarang sekali menangis, paling kalau kehausan itupun hanya menangis seadanya. Anakku juga tidak dibiasakan ditidurkan digendongan.

Pertama kali, jujur saya sebagai ayahnya sempat khawatir atas perkembangan anakku yang tidak lazim seperti ini. Apa ada kelainan? tanyaku dalam batin. Sempat juga browsing di internet tentang gejala2 penyakit tertentu (na’u dzubillah min dzalik) tapi alhamdulillah tidak ada satupun yang sesuai. Pendengaran, penglihatan, konsentrasi, bicara, daya tangkap, perkembangan fisik, kemampuan motorik alhamdulillah semuanya berjalan normal. Beberapa tetangga sering menimpali, “ada bayi kok rasanya seperti tidak ada bayi, gak ada suaranya”..tapi begitulah, anakku sepertinya memang tidak ingin menyusahkan ibu dan eyangnya karena saya pribadi tidak dapat berada di sisinya setiap waktu dan istriku harus mengajar di MAN berangkat pagi dan pulang menjelang jam 3.

Sementara saya hanya dapat pulang sekali dalam dua minggu. Itu hasil dari omongan hati ke hati dengan istri mengingat jarak yang lumayan jauh dan transportasi yang tidak begitu nyaman. Untuk mencapai kampung perlu waktu 10 jam naik bus Sinar Jaya, itupun adanya yang ekonomi kursi 2-3. Bisa dibayangkan betapa harus prihatinnya kaki menekuk semalaman karena jarak kursi depan dan belakangnya yang sangat berdekatan. Sebenarnya ada AC Ekonomi tapi berangkatnya sekitar jam 5 sore jadi tidak mungkin kekejar dari tempat kerja saya. Ada juga alternatif kereta Jakarta-Purwokerto, tapi setali tiga uang, kereta nyampe Purwokerto sekitar jam 1 dini hari dan untuk mencapai kampung saya mesti naik ojek sekitar 1 jam menembus dinginnya malam menjelang pagi melewati pinggiran kota yang sangat riskan kecelakaan dan kejahatan. Ada alternatif lain juga naik kereta pagi hari jam 07 dan nyampe Purwokerto sekitar jam 12.30 tapi rasanya sayang banget waktu yang terbuang untuk berkumpul bersama keluarga karena harus berangkat keesokan harinya. Pertimbangan lainnya adalah faktor kesehatan. Dengan perjalanan yang tidak begitu menyenangkan dan istirahat di rumah yang cuma sebentar seringkali memaksa fisik harus ekstra keras fit. Kalau fisik tidak fit bisa dibayangkan mudah sekali sakit.

Saya sebenarnya merasa bersalah dan merasa ada sesuatu yang hilang menyadari saya tidak dapat melihat setiap perkembangan anak saya setiap saat. Ada juga teman saya sempat bercanda..”jangan2 anaknya memanggil om” he he…tapi saya pribadi percaya akan adanya kekuatan hati ayah dan anaknya, Insya Allah anakku mengenal ayahnya dengan baik dan tidak akan tertukar dengan yang lainnya. Hal ini terbukti sejak anakku umur 2 bulan saya sudah sering menggendongnya dan dia kelihatan sangat nyaman berada dalam gendonganku. Begitupun ketika dia sudah mampu untuk memilih, dia memilih saya untuk minta digendong dibandingkan dengan paman atau uwa’nya bahkan eyangnya sendiri yang tiap hari merawatnya. Ibarat kata kalau ada saya dirumah maka pilihannya adalah hanya saya dan istriku.  

Saya masih ingat, ketika 10 bulan yang lalu istriku bilang lewat telepon, anak kita sudah dapat tengkurap rasanya diri ini ingin sekali buru2 pulang. Dua minggu rasanya berjalan lambat sekali. Tapi ada juga teman yang bilang, “kok kamu kayaknya tidak rindu sama anakmu?” menaggapi sikap saya yang tenang dan tidak menampakkan rasa rindu saya. Jujur saja saya tidak mau menaggapi pertanyaan itu, toh buat apa, ini adalah masalah perasaan, cukup saya sendiri yang bisa merasakan, tidak layak bagi saya mengumbar perasaan pribadi di depan orang lain.

Bagi saya yang penting adalah komitmen dengan keluarga dan komunikasi berjalan baik. Ada juga teman yang menanyakan saya jarang sekali pulang..ehmm…saya enteng saja menanggapinya, “iya neh sudah 6 bulan tidak pulang”, karena toh percuma saya jelaskan panjang lebar, buat apa??, dalam hati saya “memang kalau pulang saya mesti pamitan sama kamu??” he he.. Prinsipnya saya yang tahu “yang terbaik” untuk diri sendiri dan keluarga..

Eh..kok jadi curhat ya..Saya kan ingin ngomongin anak saya.

Minggu yang lalu saya pulang. Walaupun penat rasanya badan saya tapi menyadari akan segera bertemu dengan istri dan sang buah hati jadi hilang semua kepenatan. Menerobos sambutan angin dingin sang fajar di Purbalingga, saya berlindung dibalik punggung tukang ojek menuju rumah saya.

Dan benar saja, sambutan senyum dan tawa anak saya di depan pintu rumah menghangatkan badan yang sedari tadi kedinginan. Belum sempat saya menurunkan tas, anak saya sudah menubruk ingin di gendong. Saya ciumi kedua pipinya yang gembil itu dan dia juga menyambutnya dengan mencium pipi saya sambil bibirnya yang mungil berucap “muachhh”…itu memang diajarkan istri saya, kalau istri saya bilang “ayo ayah di sayang”, maka anak saya bertingkah seperti itu, mencium dan berucap ”muachh”…. 

Dan seperti janji dalam hati, saya akan memberikan waktu yang berkualitas dalam dua hari untuk anak saya. Dari menemani tidur, jalan2 pagi mengenalkan alam padanya, serta bermain-main bersama. Kebetulan di usianya sekarang sudah ada beberapa kosa kata yang dikuasainya seperti “mbem” yang maksudnya “kendaraan mobil/motor”, karena suaranya mbem..mbem..mbem…”maem” maksudnya “makan”, “wa” maksudnya “uwa”, “bu” maksudnya “ibu”, “deng” maksudnya nendang bola, ”nggak” maksudnya menolak ajakan. Anakku juga sudah dapat menirukan bunyi cicak “ck ck ck” sambil matanya mencari-cari di dinding atas tempat biasanya cicak nempel. Dan kata lainyya adalah “bapak”. Itu special panggilan buatku…kemarin pas pulang dia memanggilku terus..pak..pak…tidak mau lepas sama sekali dan tidak mau ditinggal walau hanya sekedar ke kamar kecil atau sholat. Anakku akan mencari-cari sambil memanggil-manggil “bapak..bapak..”, ketika ditemukannya saya sedang sholat buru2 dia minta dipangku…Oh anakku sayang…

Ada perasaan haru yang terdalam. Sesuatu kata yang kecil dan sederhana tapi mempunyai sarat makna yang dalam bagiku. Kata julukan “bapak” yang ditujukan padaku berarti saya harus lebih bertanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkannya serta menyediakan pendidikan yang cukup duniawi dan ukhrowi. Ketika saya tatap kedua matanya yang bulat dan bening, saya berujar dan berbisik “nak, jadi anak yang sholih ya, pintar, nantinya mandiri” dan diakhir wirid sholat saya, sepenggal doa aku munajatkan untuk keluarga kecilku, untuk buah hati yang sedang saya pangku, “semoga saya dapat menerima amanah ini dengan sebaik-baiknya karena taruhannya tidak main2 yaitu surga atau neraka”..

Papahnya Lazuward

Kategori: My Family