it’s me

Entries categorized as ‘Entertainment’

Indonesian Festival, Representing only Small Part of the Rich Indonesian Cultures

Agustus 16, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Yesterday was the special occasion for Indonesian community who live in Canberra since it was held a ‘big’ event, ‘Indonesian Festival’ in order to celebrate the 64th anniversary of Indonesian independence. Overall, the event was success, supported by the weather that was very friendly, as not as usual in the winter, yesterday was quite warm. Moreover, it was quite surprising because the visitors, not only Indonesian community but also foreign people, from Australian residents, Arabian, Chinese, etc. flocked to the Indonesian embassy.

What was it offered for Indonesian Festival? There we enjoyed some entertainment from Indonesian cultures, such as Rantak dance, Manukrowo, Trunojoyo, Batakese song, keroncong songs, batik fashion show, angklung performance, etc. in which began at around 10 am food and finished around 5 pm. It was also offered some Indonesian food in lot stalls, such as satay, tahu, bubur ayam, candil, etc. For people who missed the real Indonesian food, that event may become the right place to overcome the longing.

Looking at the enthusiastic Australian and other foreign people, I believe that this event could be the one good way to promote Indonesian tourism particularly by introducing the rich of Indonesian cultures in terms of traditional dance, folk songs, handicraft, etc. I did admit that Indonesia has rich beautiful cultures more than that was presented yesterday. Each region or ethnic group has it cultures and heritage. Maybe for some Indonesian cultures, we are as Indonesian sometimes do not recognize them. So that’s why by bringing those cultures in such kind of event like Indonesian Festival will help us and international community to more understand the rich of Indonesian cultures. It might be better if the big event like Indonesian Festival be prepared and organized well, such as building the excellent stage, dividing the stalls by some Indonesian ethnic group in which sold not only the food but also the handicrafts, etc.

The performance on the stage may also be better if it shows more vary. Indonesia still has many other good performance, such as ketoprak, wayang golek, kuda lumping, sendratari, etc. Indonesia has also many handicrafts. Unfortunately, yesterday, I was difficult to find it. Maybe it’s better if Indonesian embassy cooperates with some Indonesian traditional entrepreneurs to bring their handicrafts here. It becomes mutualism cooperation. The event is more extravaganza, on the other hand the entrepreneurs come up with benefit of networking. I little bit surprised looking at Sarah (Australian resident) who looks more ‘Indonesian’ by wearing a good model of batik and also the accessory of handbag made of coconut shell. It is really beautiful. Should be we ashamed to her??

Kategori: Entertainment

Rabbit-Proof Fence: A Black History of Australia

Juli 6, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

03 February 2009

Rabbit Proof Fence is a movie that I had watched at IAP. At least, from this movie, I have learnt much about honesty, fairness, and sincerity. I can see that Australia has learnt from its history and come along to the bright future together. The teacher emphatically admitted that it became a black history of Australia. The movie is about the stolen generation in Australia toward indigenous people, aborigine people.

It is a true story adapted from ‘Follow the Rabbit-Proof Fence” by Doris Polkington Garimara. The story was happened during the 1930s which set in Jigalong where three children Molly, Gracie and Daisy lived. The children are referred to by Neville as “half-castes”, having one white and one black parent. The children are forcibly captured from Jigalong taken to the camp at Moore, around several thousand miles away. The purpose of kidnapping those children is to breed out of the black colour on aborigines by introducing the policy to forcibly be married with white people so that the next generation will birth in white colour. It was an ambition to create Australia as a white nation, a western culture.

The movie showed the struggle of three children to escape from the camp by walking back home following the rabbit proof fence. After several more weeks Molly and Daisy were successful to arrive at heir home, while Daisy was recaptured.

In the last movie, Molly explained that she had her own daughters who were taken from her and how she was able to rescue one, but not the other. Her successful rescue was done in the same way when she run away in her childhood; she walked the length of the fence back home.

As I wrote before, it became a black history of Australia where there was an era of attempting to vanish aborigine identity. fortunately, Australia has learnt from that. Officially, the Prime Minister apologized for unaccepted action in the past. I think every country has a problem with regard to face the diversity, the gap between one to other regions or ethnic group. Australia now is trying to develop some policies to help the welfare of Aborigines without vanishing their culture even though like the teacher said it’s very difficult; but at least sincerily the government is attempting to live together harmonically with the same right in this country. It is absolutely true a slogan that a develop country is a country in which learnt from its history…How about Indonesia??

Kategori: Entertainment · Resonansi

Susahnya Mencari Host Program Televisi di Indonesia yang Oke

November 7, 2008 · & Komentar

Acapkali setelah melihat program talkshow di televisi nasional berbuntut mempertanyakan kualitas sang host / pemandu acara program tersebut. Pernah melihat suatu program, setelah bertanya sesuatu kepada guest star, si host kemudian sibuk membaca cue card yang ada di tangannya, dan itu tertangkap oleh kamera, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Di lain waktu, si host terlihat resah, dan matanya mencuri-curi pandang ke arah “sign” untuk mengetahui adanya commercial break. Kalau sudah begini, sebagus apapun jawaban guest star, rasanya jadi hilang ruh program tersebut karena kelakuan si host. Yang terbaca kemudian, si host hanya ingin menyelesaikan kewajibannya, dan begitu waktu selesai, say ten-kyu, jabat tangan n’ game is over, tidak meninggalkan sesuatu yang berkesan kepada audience..

Yang paling parah adalah kualitas pertanyaan si host, yang terkadang bukan sesuatu yang ‘enggak banget’ dan hanya membuang-buang waktu..walaupun sebenarnya dalam hal ini si host tidak dapat disalahkan sendiri2 karena suatu program talkshow di televisi sebenarnya pekerjaan team, ada team di belakang layar yang juga ikut menentukan keberhasilan suatu program, semisal team yang menyiapkan “list of questions”, smart question akan meningkatkan kualitas suatu program.

Tidak adanya host yang bener2 oke maybe disebabkan kebanyakan host2 tersebut dari kalangan selebritis yang tidak mempunyai latar belakang ilmu komunikasi, sehingga hal2 dasar tentang komunikasipun mereka tidak ‘ngeh’ seperti memberikan ‘feed back’, ekspresi antusias terhadap jawaban guest star, ekspresi simpati, dsb. Jangan ditanyakan pula kemampuan memancing emosi guest star dengan cara yang elegan…

Kalau di Indonesia, host program televisi yang masuk kategori ‘oke’ menurutku adalah Andy F. Noya, dan mungkin juga Tantowi Yahya. Cara mereka bertanya dan memerikan respon atau memancing emosi guest star sudah mencapai taraf yang matang, mereka memposisikan dirinya sebagai layaknya seorang host (tuan rumah) di program tersebut.

Bandingkan misalnya seorang Titik Puspa ketika ia jadi guest starnya Kick Andy dengan program talkshow yang lain akan berbeda jawabannya, maybe karena Andy sanggup menggiring dan memancing perasaan eyang Titiek, mengekspresikan antusiasmenya mendengar jawaban eyang Titiek, dan mendorong eyang Titiek megeksplorasikan apa2 yang ada di benaknya..efeknya program tersebut menjadi hidup, dan kita sebagai audience-nya dapat mengambil ’sesuatu’..

Berkaca dari banyaknya host2 karbitan kita yang masih di bawah standar, alangkah baiknya mereka dibekali atau membekali diri mereka sendiri dengan ilmu komunikasi dan yang tak kalah pentingnya adalah belajar dari para host2 senior yang memang sudah diakui kualitasnya, semacam Oprah Winfrey atau Larry King atau kalau di Indonesia, Andy F. Noya..

Kategori: Entertainment

Infiltrasi Budaya “India”

November 3, 2008 · 1 Komentar

Orang sering mengatakan bahwa budaya dan peradaban suatu negara dapat tercermin dari produk sinema negara tersebut..Suatu budaya dapat berasimilasi dengan budaya lainnya dengan sangat mudah melalui contact person atau kalau jaman sekarang, cara yang termudah, melalui media televisi..

India, negara yang jauh lebih tua peradabannya dari Indonesia, seperti tercermin dalam beberapa literatur sastra klasik- Mahabharata dan Ramayana, sejak jaman baheula mempunyai banyak pengaruh terhadap perkembangan budaya negara2 lain, termasuk Indonesia. Terlebih, India dikenal sangat produktif dalam pembuatan film/sinetron yang sudah punya jalur distribusi tersendiri ke beberapa negara lainnya.

Namun, akhir2 ini ada keresahan tersendiri melihat adanya dekadensi budaya di India, (dalam kaca mata awam saya), seperti tercermin dari produksi sineas2 mereka yang banyak diputar di stasiun TV Indonesia yang ide cerita dan penokohannya hanya berkutat hal2 yang itu2 saja, seperti perebutan warisan, dendam, cinta segitiga, yang pada akhirnya berbuntut pengaruhnya ke budaya kita, Indonesia.

Celakanya, tren film seperti itu diadaptasi secara total dalam produk2 sinema Indonesia, khususnya sinetron, yang sejatinya punya pangsa pasar yang luas dan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter dan perilaku orang, walaupun mungkin tidak secara langsung, generasi ke generasi.

Tidak hanya ide cerita dan penokohan saja, bahkan gestur dan verbal pun dicontek habis, sehingga sudah mahfum bagi kita melihat adegan “horor” setiap hari dalam kehidupan kita seperti sorot dan pelototan mata yang kejam, kerlingan mata yang mengisyaratkan kesadisan yang mendalam, senyum menyeringai, dendam yang menyala-nyala yang diungkapkan secara berlebihan, kata-kata verbal yang nyinyir yang semestinya tidak layak masuk dalam ruang pribadi rumah kita, seperti umpatan2 sarkasme. Tindakan yang sudah tidak manusiawi seperti merencanakan pembunuhan, meracuni minuman, memotong rem mobil, dll. Eksploitasi kesedihan dan kepedihan yang tak berujung sang bintang utama, ketidakberdayaan (atau kebodohan dan kenaifan?), serta eksploitasi kemegahan dan kekayaan seseorang yang tidak realistis. Naturalitas dalam berakting sudah tidak diperlukan lagi.

Celakanya lagi, produk2 seperti ini kebanyakan ditonton para ibu2 dan anak2 di rumah, yang seharusnya jadi tameng moral dan budaya kita..sesuatu yang berbahaya ada di depan kita..

Mengapa saya memberanikan diri menyebutkan hal ini sebagai infiltrasi budaya “india”, (walaupun jadi terkesan rasis dan tanpa penelitian ilmiah sebelumnya), karena sejatinya, pertama, kebanyakan sinetron2 kita diproduksi oleh PH yang dimiliki oleh orang2 India dan keturunannya seperti, Multivision Plus (Raam Punjabi), MD Entertainment (Manoj dan Damoo Punjabi), Soraya Intercine (Raam Soraya), Starvision (Chand Parwes), Rapi film (Gope T Satmani), Indika Entertainment (Shanker) dll. kedua, ide cerita dan penokohan tidak berbeda jauh dengan serial TV atau film produksi negara asal para produser tersebut, India. Ketiga, produk2 tersebut sangat berbeda jauh dengan, maaf, produksi sineas pribumi seperti Rano Karno dan Deddy Mizwar yang share-nya kecil sekali, namun mempunyai muatan idealis dan pesan moral yang dalam. Terlebih kalau kita bandingkan dengan produksi TVRI jaman dulu seperti Jendela Rumah Kita, Pondokan, Keluarga Rahmat, Dr. Sartika, dll..maka akan sangat jauh muatan edukasinya..

Sekarang lihatlah bagaimana sinetron remaja mengeksploitasi kenakalannya secara berlebihan, mencelakakan, membunuh tanpa rasa bersalah dan berdosa, serta mengagung2kan materi. Pada awalnya saya sempat heran, apakah remaja2 sekarang sebagaimana tercermin dalam sinetron2 kita sudah begini parahnya? Namun lambat laun, berdasarkan pengalaman empiris, dari mendengar sendiri celotehan2 mereka atau melihat tindakan mereka dalam tayangan berita kriminal, saya jadi mahfum, mereka memang ada sekarang ini, namun mereka ada tidak secara “ujuk-ujuk”, mereka ada, terbentuk dari potret sehari2 dalam sinetron2 kita.

Pertanyaan kemudian, apakah memang produk2 sampah seperti itu memang laku dan memiliki rating yang tinggi? jawabannya, ternyata tidak juga, rating mereka tinggi karena masyarakat kita tidak mempunyai pliihan lainnya sementara mereka perlu hiburan sehingga mereka melahap mentah2 saja isi sinetron itu, buktinya produksi “Keluarga Cemara”, “Kiamat Sudah Dekat” atau “Para Pencari Tuhan”, yang membumi dan ada muatan edukasinya lumayan laku. Apakah mereka tidak mampu mengartikulasikan pesan moral kedalam bahasa sinetron? atau memang mereka tidak bermoral dan tidak tau pesan moral yang baik untuk disampaikan? Ataukah memang mereka enggan membuat produk yang berkualitas atau memang ada “titipan sponsor”?

Produk “Ayat2 Cinta” yang fenomenal pun sekarang hanya diambil kulitnya saja, tentang cinta segitiga atau poligami, dan lagi2 permainan seperti pembunuhan, fitnah, kekejian, kata2 kasar, tetap jadi menu wajib bingkai seinetron2 itu, seperti sinetron Munajat Cinta, Muslimah, dan Ta’aruf yang sedang tayang sekarang2 ini. Kalau saya lihat, ini adalah tindakan pembodohan dan penipuan, atau penghinaan secara besar2an terhadap nilai2 islami. Dengan cara pragmatis mereka menyebutnya sinetron religius hanya dengan membungkus beberapa kalimat dengan tambahan kalimat thoyyibah: astaghfirullah, alhamdulillah, dan tak lupa menyelipkan soundtrack yang sangat religi sekali dari tembangnya Opick. Selebihnya sama saja dengan sinetron lainnya, tak ada nilai2 islamy disampaikan.

Tak adakah cerita yang menginspirasi generasi muda kita misalkan tentang semangat pantang menyerah menggapai cita-cita seperti serial TV Jepang “Oshin” atau semangat profesionalisme daris alah satu dorama Jepang “Anchor Lady”, atau perjuangan mempertahankan idealisme dengan cara yang elegan tanpa harus menurunkan atau menggadaikan harga diri?

Sekarang kita tidak perlu heran kalau sekarang kita naik angkot bareng anak2 sekolah, mereka dengan enaknya bilang “bego lo..”, “kubunuh kau”, atau kata2 nyinyir tentang cowok di sekolahnya yang jadi rebutan para cewek..Kata-kata yang dulu, jaman2 kita masih muda sangat tabu dikatakan, sekarang sudah biasa kita dengar sehari-hari.

Lalu bagaimana kita menjaga nilai2 budaya kita yang sangat arif itu? Itu sebenarnya adalah otoritas pemerintah untuk “menertibkan” produk2 sampah televisi. Namun agaknya, era reformasi menghadirkan ketidakberdayaan pemerintah (untuk tidak dikatakan campur tangan terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi), sesuatu yang sangat disayangkan karena menyangkut masa depan generasi muda kita. Bandingkan jamannya Soeharto, dalam beberapa hal saya menyetujui tindakan represif terhadap produk yang ditayangkan di televisi yang tidak sesuai dengan akar budaya kita. Saya masih ingat lagunya Rita Sugiarto yang berjudul “Makan Darah” dicekal karena megandung kata2 yang terkesan kasar dan akhirnya diganti dengan “Makan Hati” atau pada eranya lagu “Hati Yang Luka”, Harmoko mencekal lagu2 sejenis yang menimbulkan apatis dan pesimis.

Kalau pemerintah sudah tidak berdaya dan organisasi sperti KPI juga tidak terdengar kabar beritanya, maka jangan salahkan kalau mental dan moral generasi berikutnya akan lebih parah lagi…nilai2 adi luhung budaya kita semakin tergerus..

Kategori: Entertainment

Fenomena Artis Berpolitik

Oktober 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau dahulu di jaman orde baru artis sekedar hanyalah pajangan sebagai get voter , maka dalam era yang serba kebablasan ini, artis naik kelas sedikit, menagih sumbangsihnya, berpartisipasi aktif dalam berpolitik baik sebagai caleg ataupun ikut2an dalam pilkada sebagai calon gubernur/wakil gubernur, atau calon bupati/wakil bupati, atau calon walikota/wakil walikota. Entah terinspirasi oleh Ronald Reagen atau Joseph Estrada, mereka berbondong-bondong berpolitik. Atau mungkin terinspirasi tayangan TV sekarang yang serba instan dan kagetan, seperti seorang pelawak atau pemain film/sinetron yang latah ikutan variety show untuk bisa menjadi penyanyi dengan suara ala kadarnya (baca: parah), atau seperti Tukul yang jadi host ala kadarnya, sekedar lucu2an…Entahlah..

Kemunculan artis yang muncul dalam jagat berpolitik dimulai oleh para senior mereka seperti almarhum Sophan Sophiaan dan Marissa Haque (PDIP sekarang nyebrang ke PPP), Komar, Adjie Massaid dan Angelina Sondakh (Demokrat), Emilia Contessa (PPP), Dede Yusuf (PAN) yang sukeses pula menjadi wakil gubernur Jawa Barat dan Rano Karno (wakil bupati Tangerang). Beberapa yang sudah aktif di tingkat kepengurusan seperti Nurul Arifin (Golkar) dan Rieke Dyah Pitaloka (dulu aktif di PKB sekarang nyebrang ke PDIP).

Dari daftar nama caleg yang terekspos media massa, PAN laga2nya perlu diberi award atas keberhasilannya mengangkat banyak selebritis sebagai calegnya, bahkan menampik peran2 kader yang telah sekian lama bergelut membesarkan parpol tersebut. Beberapa nama yang muncul seperti Eka Sapta Nugraha, Mara karma Thaib, Ir. H. Adrian Maulana Djambek, Mesayu Aliza S.P (Ita Mustafa), Popy Maretha, Irene Librawati, Drs Ahmad Zulfikar Fauzi (Ikang Fawzi), Maylaffaiza Wiguna, H. Mandra YS, Henidar Amroe, Raslina Rasidin, Derry Drajad, Lucky Emuardi AR, Marini KS (Marini Zumaris), Ferry Soraya, H Taufik Hidayat (Tito Sumarsono), Primus Yustisio, Sri Wulandari (Wulan Guritno), Cahjono, Intan Savila, Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio), semuanya berafiliasi ke PAN. Sementara Golkar siap mengusung Jeremy Thomas, Tantowi Yahya, dan Nurul Arifin. PPP juga tidak mau kalah mengusung caleg artis seperti Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati, Feryy Irawan, Evi Tamala (Cucu Suryaningsih), Mieke Wijaya, Emilia Contessa, Marissa Haque Fawuzi, Kristina, dan Denada. Sementara Demokrat menampilkan Venna Melinda, Tere, Angelina Sondakh, dan Adjie Massaid. Partai Damai Sejahtera tak ketinggalan menyelipkan nama2 seperti Thessa Kaunang, Ricky Jo, Tamara Geraldine, dan Ronny Pangemanan. PDIP: Miing Bagito, Rieke Dyah Pitaloka, Eddo Kondologit, dan Sonny Tulung.

Jika ditilik dari nama2 diatas, hanya sedikit yang sebenarnya punya bakat berpolitik, tercermin dari jawaban2 mereka menanggapi isu2 publik yang ditanyakan, walaupun tidak se-smart politikus kawakan, tapi bolehlah..seperti Nurul Arifin, Angelina Sondakh dan Rieke Diah Pitaloka, selebihnya terlihat gagap menaggapi isu2 penting, jawabannya masih berputar hal2 yang normatif dan general, sebagian besar malah latah selalu mengangkat isu budaya…

Sebenarnya sah2 saja seh mereka berpolitik, karena berpolitik adalah hak setiap warga negara dan dijamin dengan undang-undang dasar. Mungkin mereka begitu disorot karena kiprah mereka sebagai public figure yang telah dikenal banyak orang sehingga sedikit banyak tahu kapaistas dan track record mereka. Padahal kalau ditelusuri lebih lanjut, lebih banyak caleg2 yang bermasalah, dari yang asal comot yang tidak ada kapasitasnya, para koruptor, caleg yang bermodal duit yang menyogok parpol sehingga dapat nomor urut atas, dsb.

Permasalahan berikutnya yang sering dipertanyakan adalah soal kapasitas mereka. Mereka harus dapat menunjukkan bahwa mereka tidak sekedar “latah” berpolitik tapi memang mereka mampu. Sayangnya, berpolitik tidak dapat dipelajari satu atau dua hari atau hitungan bulan. Tidak ada jalan pintas dalam berpolitik, harus merangkap dari bawah, ikut dalam kepengurusan organisasi dari level yang bawah, karena berpolitik memerlukan beberapa skills seperti kemampuan untuk mendengar dan menyerap aspirasi rakyat dan kemudian mampu untuk menyampaikan dan meyakinkan eksekutif, kemampuan bernegosiasi, memanage organisasi, beropini, fight dalam diskusi2, mengetahui masalah tata negara, perumusan undang-undang, dsb. Permasalahan bangsa tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghibur semata. Agaknya hal ini yang tidak disadari penuh oleh mereka.

Jangan-jangan mereka hanya dimanfaatkan oleh parpol, untuk sekali lagi sebagai pengumpul suara, atau lagi-lagi mereka terjebak dalam instanitas program TV yang lagi marak akhir2 ini..

Kategori: Entertainment · Politik-Ekonomi

Menelisik Karya Emas Bang Tito Sumarsono

Oktober 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam dua bulan terakhir ini, sering gak sengaja liat di TV atau denger di radio lagunya Peterpan “Kisah Cintaku”, satu lagu yang mungkin secara personal artinya dalam banget buat saya pribadi sekaran ini tentang rasa kehilangan yang teramat sangat. Lagu ini sebenarnya lagu lawas, salah satu karya emas Tito Sumarsono, komposer lagu yang jaya rayanya di awal era 90-an, dulu lagunya dibawakan dengan sangat manis dan penuh penghayatan oleh sang legendaris, Chrisye. Kalau sekarang mungkin karena dibawakan secara ngeband, jatuh2nya easy listening saja…

Menelisik karya Tito Sumarsono pada saat sekarang ini memang susah secara dianya sendiri sudah tidak aktif menulis lagu atau masih tapi tidak dipubilasikan atau dikomersialkan, gak taulah… kabar terakhir dianya mo jadi caleg dari salah satu parpol…tapi kalau bicara lagunya Tito Sumarsono di awal tahun 90-an, maka banyak banget hits2 yang ia buat kala itu, sebut saja lagu “Kaulah Segalanya” yang dibawakan Ruth Sahanaya, yang dengan lagu tersebut, setelah digubah syairnya oleh Tengku Melinda, menang dalam ajang festival di Finlandia, selanjutnya lagu2 yang dibawakan Chrisye, seperti ”Kisah Cintaku”, dan “Pergilah Kasih”, mendapat apresiasi dari para peminat musik tanah air. Tito sendiri tidak hanya sebagai komposer, ia juga turun panggung sebagai penyanyi, lumayan sukses dengan lagu2nya seperti “Untukmu”, “Tuhan Tolonglah”, dan “Kamu”.

Sebagai salah seorang komposer yang lagi jaya2nya, karya2nya banyak diburu orang, dari yang nothing saat itu seperti Machicha Muchtar, yang kemudian beralih jadi penyanyi dangdut, dengan lagunya saat itu “Hanyalah Satu”, yang terlihat elegan, atau ada nama Novy, dengan lagunya “Masih Adakah” yang lumayan populer kala itu.. penyanyi lain yang ikut mempopulerkan lagunya Tito adalah Nia Zulkarnain (Jangan Pisahkan Aku) kemudian ada juga Meike Roosame (Kusesali) ..

Kategori: Entertainment

Persahabatan Bagai Kepompong

Oktober 20, 2008 · & Komentar

Pertama kali mendengar lagu kepompong yang dinyanyikan oleh Sind3ntosca pas naik mobil bareng sama adik dan keponakanku pas libur lebaran kemarin. Ternyata keponakanku yang notabene baru berumur 2.5 tahun seneng banget lagu ini. Denger punya denger asyik juga ini lagu. Lyric nya sederhana tentang hal yang universal, persahabatan, riang namun terkesan jujur dan apa adanya. Penasaran banget siapa sih Sind3ntosca ini? kayak apa pula rupanya? Dalam hatiku, lagu ini akan punya tempat tersendiri ditengah-tengah membanjirnya band yang hampir kebanyakan bergenre sama.

Pas balik ke Jakarta, suatu malam salah satu stasiun TV Swasta, TVOne, menayangkan live music yang salah satu pengisinya adalah Sind3ntosca ini. RAsa penasaran akhirnya terjawab pula, ternyata personel Sind3ntosca ini bisa dibilang masih lugu, kalau masih boleh dibilang masih “cupu”, cadel, lompat kesana kemari dengan wajah innocentnya tanpa memperhatikan blocking panggung. Tapi ya itulah poin lebih band ini, lugu, riang, jujur, apa adanya seperti liriknya berikut ini:

Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong

Kategori: Entertainment

Mayang Sari, H5 dan Mister Bete

Oktober 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Membaca pemberitaan tentang Mayang Sari di media massa mungkin berasa biasa saja, sosok wanita ketiga dalam rumah tangga orang lain tapi cobalah buka sedikit saja komen2 pembaca misal dalam detik.com atau kompas.com maka akan menyeruaklah sumpah serapah dan hujatan2. Salahkah Mayang dan sang penghujat2 itu?

Sama seperti pesohor lainnya dalam jagat selebritas, Mayang Sari pun hidup dalam sekotak layar gelas televisi yang sebagian hidupnya mengandalkan dari pencitraan diri. Belum lama ini, pecinta jagat infotainment dihenyakkan dengan foto2 Sazkia Adya Mecca, icon selebritis solehah, yang kedapatan sedang berma’syuk merokok ria diapit dua orang lelaki. Tamatkah karirnya? jawabannya, bisa jadi. Setelah kejadian itu, entah ada hubungannya atau tidak, Sazkia terdepak dari casting film Ketika Cinta Bertasbih.

Kembali ke soal Mayang Sari, karir sebagai penyanyipun telah lama meredup seiring dengan pemberitaan negatif dengan dirinya. Namun dia sedikit “beruntung”, karena kehidupan pribadinya dengan trah Cendana telah memberi limpahan harta yang bertumpuk-tumpuk. Itu kata infotainment loh..? ini pula yang membikin geram para pemerhati jagat selebritas dalam sumpah serapahnya di forum pembaca.

Emosi dan emosi adalah jualan jagat selebritas. Para pemerhati yang emosi itu sendiri adalah pasar televisi dan tabloid gossip lainnya. Mereka hanya hidup dalam sekotak televisi, walaupun sekarang kebanyakan televisi sudah berwarna, tapi pola pikir yang dipelihara para bisnis entertainment tetap saja hitam putih. Mereka tidak membuka pola pikir mereka terhadap berbagai kemungkinan yang mungkin tidak mereka ketahui. Salahkah mereka? tentu saja tidak, jawabannya. Itu adalah masalah persepsi dan pola pikir.

Stigma orang ketiga memang selalu serba salah. Hal ini pulalah yang terjadi pada diri Mayang Sari. Dan sebagai sang istri sah mister bete, H5, diagung2kan sebagai sang peri yang terdzalimi, sang peri yang sangat cantik, jauh lebih cantik dari Mayang Sari. Benarkah H5 seperti itu? nggak tau, jawabannya. Tulisan ini pun tidak ditujukkan untuk mencari jawabannya, hanya untuk mengeluarkan pola pikir kita yang terkukung dalam sekotak layar gelas televisi ke realita dunia nyata.

Toh, dalam kenyataannya, pihak ketiga tidak selalu salah. Kita tidak tahu persis perilaku H5 dan hubungannya dengan mister Bete. Mungkinkah mister Bete benar2 bete dengan sikap H5 dan menemukan sosok yang hangat, Mayangsari dalam kebeteannya. Tidak tau juga.. karena hidup ini penuh warna

Kategori: Entertainment

“Tung tung tang tang tang tung tung..” Sebuah Anomali Program TV

Februari 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau anda pemerhati TV pasti tau banget kata-kata yang biasa dipakai Eko Patrio “tung tang tang tang tung tung” sekedar joke bahasa thailand untuk menyegarkan suasana dalam acara Supermama Seleb Show dan Concert …Banyak idiom yang akhirnya familiar seperti “jangan gila dong..” yang biasa dipakai Ruben Onsu, atau bahasa tarzan-inggris..”anybody hell…don’t make si hot don’t…”, teriakan eko “ea.ao..baju baju ba…”, “tulung-tulung..” atau bisikan ivan “..ssst..anak saya sedang tidur”, serta beberapa gesture seperti mukul2in kepala sendiri seperti yang biasa Ruben lakukan atau gulang-guling kayak Eko…

Selain presenter dan komentatornya yang gokil abis, pemirsa masih dapat menikmati kepolosan sang supermama, seperti Mama Dahlia dan Mama Suhana..ini sudah jadi bagian jualannya Supermama Seleb Concert..mengikuti jualan acara Mama Mia yang berhasil menjual kepolosan Mama Saidah..

Sesuai dengan hasil rating AC Nielsen, program TV ini sempat menembus peringkat 1 mengalahkan program2 unggulan TV lainnya, satu bukti bahwa acara ini cukup digemari masyarakat…

Menilik suksesnya acara ini saya jadi teringat suksesnya program acara “Empat Mata” dengan maskotnya Tukul Arwana. Satu kesamaan yang ditarik dari dua program ini adalah sama2 keluar dari pakem sebuah reality show yang biasanya serius, dibawa presenter yang menguasai teknik presenter, serta kemampuan bahasa inggris yang excellent. Keduanya hanya menawarkan kesegaran. Masyarakat yang sepertinya telah lelah dengan kepenatan kerja sehari-hari cukup terhibur dengan joke dan guyonan hostnya. Masyarakat sepertinya sudah capai dejejali sinetron2 sampah yang hadir dari jam 6 sampai jam setengah sebelas, tidak ada alternatif hiburan lain yang menarik…

Kelemahan dari kedua program tersebut adalah stasiun TV selalu tergiur untuk menambah porsi program tersebut atau memperpanjang kontraknya sekedar untuk memaksimalkan keuntungan tanpa disertai peningkatan kualitas akibatnya dapat ditebak, masyarakat jenuh dan mencari alternatif hiburan lainnya…

Liat saja, program “Empat Mata” sekarang ini sudah meredup. Dan stasiun Indosiar yang dari sononya memang sudah terkenal dengan menduplikasi program-program suksesnya seperti AFI, sepertinya tidak belajar banyak dari hal tersebut terbukti jam tayang Supermama Seleb Concert yang durasinya diperpanjang dari jam 18.00 s.d. 23.30…5,5 jam..busyet dech…tak hanya itu, mendekati berakhirnya program tersebut, Indosiar membuat lagi acara sejenis Superstar Show…weleh weleh…liat saja paling program ini akan berakhir mengenaskan seperti program AFI dulu…

Papahnya Lazuward

Kategori: Entertainment

Candy dan Namaku Mentari

Februari 18, 2008 · 1 Komentar

candy.jpgSebuah tabloid Infotainment yang tergeletak di meja kerja temanku aku buka, upss, ada kalimat bombastis penuh sanjungan terhadap artis (pas nggak ya nyebut kata artis) agak jengah sebenarnya aku nyebut itu, terlalu terhormat banget, hmm..seleb aja kali ye, ya seleb ABG pemeran Candy dan Namaku Mentari, disitu dipuji abis, sebagai artis (baca seleb) yang punya bakat yang luar biasa dan diprediksikan jadi artis besar nantinya…aku baca umurnya adalah 14 tahun, namanya, inisialnya aja ya RA…sebenarnya gak penting banget seh, karena RA sebenarnya aku tulis sekedar representasi dari bejibunnya seleb cilik di dunia layar gelas dengan peran dewasa..

Candy, yang aslinya adalah cerita komik Jepang, misalnya bercerita tentang anak ABG yang diperebutkan banyak cowok, penuh dengan intrik dan “kebengisan” untuk tontonan anak-anak…sama sekali tidak mendidik, penuh keabsurdan, penuh keinstanan…

Sayangnya, sinetron seperti itu disanjung-sanjung disana-sini, dan diganjar dengan award, membuat miris hati ini..

Tak berbeda jauh dengan Candy, sinetron Namaku Mentari juga menawarkan mimpi-mimpi serupa. Sekali lagi absurd, norak dan jauh dari mendidik. Kata pas untuk menggambarkan, “menjerumuskan” anak-anak kita dalam pola hidup yang tidak terarah…

Seringkali kalau dalam angkutan kota, bareng sama anak-anak SMP, udah deh siap-siap tutup kuping  dan mengelus dada mendengar omongannya, soal cowok lah, gebetan, dan lain-lain..inikah fenomena generasi kota kita hasil didikan Candy, Mentari, Fitri, dan lain-lainnya???

Tiba-tiba saya teringat zaman dulu, zamannya pak Harto dan Harmoko, tontonan kita ternyata masih lebih “aman” dan berkualitas. Sebut saja, Jendela Rumah Kita, ACI, Dr Sartika, dan masih banyak lainnya… 

Uppsss….pertanyaannya sekarang, lalu siapa yang patut disalahkan??? Pemilik PH?? Artisnya?? Pemerintah?? Televisi??? Media Massa lainnya?? atau malah Penontonnya???

Saya kira semua punya kontribusi terhadap bobroknya kualitas sinetron remaja kita. Cuma tidak fair kalau bobot kesalahannya sama. Menurut saya, pemerintah punya bobot kesalahan yang paling tinggi, karena yang punya hak meregulasi ada ditangannya, sebenarnyalah hak setiap warga negara yang telah membayar pajak untuk dapat hidup aman, sekarang ini tiada yang aman, anak-anak pergi keluar terancam penculikan, prostitusi, pergaulan bebas, narkoba. Anak-anak di dalam rumahpun juga tidak aman dengan tontonan yang menjerumuskan. Saya juga heran, walaupun ada KPI, ada perangkat hukum, tetap saja tontonan tidak sehat ini berlenggang bebasnya menebarkan horor.

Selanjutnya adalah pemilik PH dan Televisi. Keduanya punya bobot kesalahan yang sama. Alasan mengejar profit dengan menampikkan tanggung jawab moral seperti itu sudah saatnya dihilangkan. Banyak sebenarnya elemen-elemen masyarakat ingin menonton tontonan yang berkualitas. Tontonan yang berkualitas tidak selalu harus serius, bisa dikemas dalam tontonan segar, tidak menggurui, pas untuk usianya, pas dengan budaya kita….pasti bisa..come on…

Selanjutnya adalah Media Massa: infotainment yang menggembar gemborkan artis seperti RA itu. Media Massa selain harus entertaining, informatif, sebenarnya punya peran koreksi dan kritik. Peran ini yang sekarang kurang.

Pihak terakhir adalah penonton. Sebenarnya disisi lain pihak ini adalah korban. Pihak yang tidak diberi hak memilih, terkooptasi oleh sindikat televisi dan PH. Tapi kalau ada kesadaran bersama memboikot acara norak seperti Candy, dll pasti bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik…

Semoga..

Papahnya lazuward

Kategori: Entertainment