Malam ini dalam lamunanku, tiba2 muncul sesosok wajah, wajah yang pernah sangat akrab dalam kehidupan masa kecilku, masa dimana kepolosan dan keceriaan tanpa beban hidup selalu hadir mewarnai. Sosok itu adalah Kamal. Kamal dalam bahasa arab berarti sempurna, mungkin ini adalah sebentuk doa dari orang tuanya semoga sang kamal kecil tumbuh sempurna jiwa dan raganya. Namun apa dikata, takdir hidup juga menentukan ia tumbuh ‘berbeda’ dengan kebanyakan orang lainnya.
Kamal hidup dilereng pegunungan ditengah2 alas didesa kami tercinta, rumahnya yang terpisah jauh dari perkampungan menyebarkan cerita tentang sosoknya yang keras yang terbiasa hidup dengan alam liar. Namun bagiku, Kamal dalam masa kecilku adalah kawan yang sangat baik, dia sangat mengayomiku, kita sering main bersama, permainan anak2 kampung yang mungkin sekarang ini sudah sangat susah ditemui tergantikan era video game dan internet..
Dalam pencarian hakikat hidup yang aku jalani, sosok Kamal menyeruak hadir, dia hadir bukan karena kelebihannya, dia hadir bukan karena keistimewaannya, seperti banyak tokoh2 sejarah yang sering dijadikan rujukan dalam biografinya. Kamal hadir sebagai seorang Kamal, dengan kesederhanaannya, dengan kepapaannya, dengan segala kelemahannya, Kamal hadir sebagai seorang teman kecilku, Kamal hadir mwnawarkan cerita hakikatnya persahabatan dan cerita kamal setidaknya memberikan i’tibar bagiku agar lebih dewasa dan bijaksana memandang hidup. Dan entah mengapa malam ini aku merindukannya, merindukan Kamal dan masa kanak2ku..
10 hari Ramadhan hamper terlewati, dan Idul Fitri sebenarnyalah saat2 yang aku nantikan, karena saat itulah aku berharap dapat menjabat tangan dan memandang wajah2 orang yang pernah mengisi masa kanak2ku dulu. Dan selalu aku berharap dapat menjabat tanganmu, teman kecilku, Kamal. Namun Idul fitri ini rasanya aku harus menahan diri untuk tidak merasakan tangan2 kasar dan hangat dari semua teman2 kecilku, termasuk kau Kamal, karena perjalanan hidupku sepertinya mengharuskanku untuk berlebaran di negara orang..
20 tahunan masa itu telah berlalu, ketika kita sama2 tamat dari madrasah ibtidaiyah dan tak lagi kulihat wajahmu. Kau dan juga senasib dengan kawan2 kecilku yang lain sudah langsung bergelut dengan kerasnya hidup saat itu, entahlah apakah kau bertani atau merantau, hanya sekelumit cerita tentangmu aku dapatkan, sementara aku masih melanjutkan sekolah. Namun kawan, jujur saja aku tidak pernah melupakanmu karena kau dan kawan2 kecilku yang lain adalah mutiara2 putih dalam hidupku. Perjalanan jauh ke Canberra pun tidak sanggup melunturkan namamu dalam kalbuku. Akupun juga tahu perasaanmu bahwa kaupun tidak melupakanku. Aku masih ingat cerita ibuku, katanya pernah diketahui kau duduk termangu didepan rumahku, diajak masuk kedalam rumah kau tak mau, katanya kau menungguku, selalu menanyakan ke penjual es buah depan rumah mengapa diriku tidak pernah pulang ke kampung halaman, katanya kamu kangen sudah lama sekali tidak bertemu..
kawan, pastinya kau akan bercerita tentang hidupmu dengan bahasa sederhanamu, tentang kerasnya hidupmu, tentang arti kebahagiaanmu, sungguh aku ingin sekali mendengarnya, namun kesempatan itu tak pernah kudapatkan. Dan cerita2 sederhanamu bagiku sama nilainya dengan cerita2 sukses tokoh2 terkenal, karena kita hakikatnya adalah pelakon2 hidup itu.
Setahun berikutnya aku dapatkan kabar bahwa kau merantau ke Jakarta berjualan bakso keliling, namun keluguan dan kepolosanmu agaknya tak sanggup menaklukkan kerasnya kehidupan ibu kota. Ada cerita kau selalu dipalak dan dipukul preman2. Ah kamal, aku ingin selalu mengikuti alur cerita hidupmu seperti kemudian aku dapatkan cerita kau diborgol di rumahmu yang terletak di lereng pegunungan, entahlah apa yang terjadi denganmu Kamal, kata orang kau menjadi gila, mengamuk dan selalu membawa2 pisau dan mengancam nyawa orang lain. Sempat kau terlepas dan mondar mandir didepan rumahku, mungkinkah kau ingin membagi beban hidupmu? Seandainya saat itu aku ada, aku tak peduli, akan ku rengkuh dirimu, mutiara kecilku..
Ah kawan, seandainya kaupun tahu, cerita hidupkupun tak juga kalah tragisnya dengan dirimu, drama kehidupan yang memang harus dijalani dan dihadapi. Dan sejujurnya disaat2 sulit akupun butuh kawan2 sepertimu, kawan sebenarnya, kawan yang tulus dan jujur, kawan yang berbahasa sederhana. Ingin sekali kita bisa bangkit kawan. Kawan, semoga kita masih dapat berjumpa, dan kita sama2 bisa tertawa renyah melepaskan beban hidup kita, seperti tawa kita waktu kecil dulu saat main kelereng..








1 response so far ↓
deden // Oktober 8, 2009 pada 1:19 am |
“Ada yang bilang, hidup ini sulit, saya selalu bertanya. dibanding apa?”. Saya pernah membaca kalimat tersebut. Kalimat tersebut sepertinya menegaskan bahwa hidup ini lebih mudah jika kita bisa melihatnya dari sisi yang lain. Mudah2an Mas Kamal temanya Mas Nurul dapat kembali lagi pada kesuksesan sesuai jalurnya. Kata Andre Wongso, sukses itu bukan milik sesorang tetapi hak semua orang. “Success is my right”. Demikian ujarnya
Thank you mas..