it’s me

Dan Keretapun Berlalu

November 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

8 Oktober 2008, 08.00.
Suasana stasiun Purwokerto sudah ramai, padat dengan orang, ketika aku sampai disana, maklum saat itu adalah saatnya para pemudik balik lagi ke Jakarta setelah melewatkan liburan Idul Fitri bersama sanak keluarganya di kampung halaman. Beberapa gerombolan ibu2 berjilbab nampak sedang mengerumuni seorang anak perempuan kecil yang keliatan tampak riang. Mungkin mereka nenek dan bu’de serta bu’lik anak tersebut yang mengantar kepulangan sang cucu atau keponakan tercinta. Beberapa diantara mereka bersaut-sautan menasihati anak tersebut, supaya tidak nakal, supaya telpon setelah sampai, supaya rajin sekolahnya, bla..bla..bla..menjelang keberangkatan beberapa diantara mereka mengeluarkan lembaran uang sekedar sangu untuk anak tersebut..

Aku duduk termangu dibangku, melihat pemandangan tersebut..

Di sudut lain, nampak keluarga kecil mengakhirkan pertemuan mereka dengan mengobrol, seorang ibu muda dan anaknya melepas sang suami yang akan menunaikan tugas sebagai kepala keluarga, kembali merantau ke Jakarta. Tampak pula guratan sedih di raut muka mereka, berulangkali sang ayah menciumi pipi anaknya, sambil sesekali terucap “jangan nakal di rumah ya..”..

Aku masih termangu memegang tas yang terasa semakin berat ini…

Dari pengeras suara, terdengar suara berat seorang pria yang mengatakan kereta Purwojaya akan segera tiba. Kebetulan aku naik kereta Sawunggalih yang berangkat setelah kereta Purwojaya, sehingga aku masih saja belum beranjak dari tempat duduku. Hilir mudik orang didepanku, menempatkan posisinya sesuai dengan gerbang kereta yang akan dinaikinya. Teriakan2 dan derap langkah mereka semakin jelas terdengar, entah memanggil nama anggota keluarganya atau ada yang tertinggal…pemandangan berikutnya, mereka mulai berebut masuk ke kereta..

Aku melihat seseorang dari balik jendela kereta api, wajahnya menahan rasa kesedihan menatap sosok buah hatinya yang telihat berbinar-binar matanya dibalik jaket tebalnya, seakan mengagumi dunia baru yang pertama kali ia lihat. Sementara seorang wanita muda nampak membopongnya, sambil menunjuk-nunjukkan tangannya, mengarahkan pandangan anaknya, ke arah sang suami, wajahnya terlihat tersenyum, namun tak dipungkiri ada rona kesedihan. Sang nenek yang berdiri disamping anak dan cucunya hanya berteriak, “hati2 ya..”, suaranya nyaris hilang tertelan keramaian suasana dan bunyi kereta yang siap melaju…

Suara dari pengeras suara memberi aba2 akan keberangkatan sang kereta, dan juluran tangan melambai-lambai serta tatapan perpisahan berakhir seiring laju sang kereta menjauhi stasiun..Dan satu buah tangan masih melambai, melihat sang sosok mungil dan wajah istri tercinta yang tertinggal di stasiun, sampai akhirnya tak kuasa untuk melihatnya tersapu kerumunan orang dan kemudian gelapnya malam…

Sosok laki-laki itu adalah aku, sekitar 10 bulan yang lalu..entah mengapa saat itu istriku memaksa ingin mengantarku ke stasiun Purwokerto bersama ibu dan kakaku..

Butiran hangat mengalir di pipiku, seperti episode itu berulang dalam hidupku. Lambaian tangan itu, sosok mungil itu adalah seperti kisahku. Kereta Purwojaya mulai melaju meninggalkan bermacam-macam kisah…

Aku masih duduk termangu, menunggu pemberangkatan kereta selanjutnya…

Kategori: Jejak Langkah

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar