Merantau Ke Deli

Sekarang ini dimana-mana demam film Ayat2 Cinta, coba aja ketik “ayat2 cinta” di eyang google, pasti banyak banget yang ngebahasnya dari filmnya sampai bukunya..

Berawal dari buku bacaan novel “Ayat-ayat Cinta” yang konon lebih bagus dari filmnya dengan teman saya (namanya mba Lies Tania Tantri, catet), usut punya usut ternyata teman saya ini dari kecil hobby banget baca buku, sedikit keluhan dari dia sejak dia berprofesi sebagai ibu rumah tangga dapat dibilang tak bersentuhan lagi dengan yang namanya buku bacaan. Tapi tak apalah kita tampung sedikit keluhannya yang penting pembicaraan berujung pada dipinjamkannya saya buku tetralogi Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” he he…

Lumayan berat juga baca bukunya dalam beberapa hari ini saya baru menyelesaikan baru sekitar 100an halaman, habisnya nyampe rumah, sholat, mandi, makan, nonton TV sebentar, mata langsung susah kompromi, brugghhh…zzz…zzz…. 

Saya tercenung teringat betapa gilanya dulu waktu masih kecil membaca buku novel / roman yang tebal sampai khatam dalam satu malam. Rasanya tidak ada istilah ngantuk saat itu…

Saya coba mengais-ngais memori saya tentang buku yang begitu berkesan sampai sekarang…yup…setidaknya ada dua buah buku yang sempat membuat mataku meleleh membacanya…hu hu..cengeng ya…

Buku kesatu, “Merantau Ke Deli” ini roman karya Buya Hamka, tutur bahasanya sangat menyentuh.  Dari hasil googling saya peroleh sinopsis dari Sarqina.multiply.com. Berikut saya nukilkan kembali dengan beberapa edit, maklumlah sister sarqina tuh dari Malaysia sehingga tutur bahasanya terkesan janggal bagi kita. Memang heran dari hasil googling dapat dikatakan orang2 malaysia yang banyak mereview roman dan novel lama kita.

Buku ini mengisahkan seorang wanita, Poniem yang diselamatkan dari lembah kehinaan oleh seorang lelaki bujang, Leman. Dia kemudian diperisteri dan hidup dalam sebuah rumahtangga yang bahagia. Poniem sangat setia terhadap suaminya dan berusaha sekuat tenaga untuk membantu semua urusan rumahtangga dan pekerjaan suaminya. Akan tetapi lama-kelamaan kedamaian rumah tangga mereka semakin hari semakin hilang setelah Leman larut dalam kegiatan perdagangannya. Sebagai lelaki yang berasal dari keluarga Minang, dia ditekan oleh keluarga supaya mengawini seorang gadis yang sederajat untuk meneruskan adat dan budaya.

Lama-kelamaan Leman termakan bujukan tersebut dan menerima untuk menikah kembali. Leman berjanji kepada Poniem tidak akan mengabaikannya dan selalu menjaga perasaannya sebagai isteri pertama. Namun janji tinggal janji. Isteri mudanya jauh lebih pandai berdandan dan merayu dan merebut perhatian Leman suapaya lebih mencintainya. Pertengkaranpun mulai terjadi. Perdagangan Leman yang selama ini dibantu Poniem pun hendak dikuasai oleh isteri muda. Leman yang serba-salah pada mulanya lama kelamaan mulai memihak kepada isteri mudanya.

Pertngkaran hebat yang terjadi memaksaLeman menceraikan Poniem. Sejak hari itu Poniem meninggalkan rumahnya dan merantau ke deli. Kegiatan perdagangan Leman mulai mengalami rugi, ditambah lagi dengan sikap tamak isteri yang baru. Barulah Leman menyedari, selama ini dia banyak terbantu oleh ketekunan Poniem dalam berdagang. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Poniem akhirnya menemukan jodoh barunya yang lebih memahami dan menghargainya, salah seorang dari pekerja di kedainya dahulu. Mereka memulai berdagang kembali dengan sedikit modal yang ada pada mereka. Usaha dagang mereka maju hingga mereka sanggup membeli rumah dan tanah.

Sementara itu Leman dan isteri mudanya semakin hari semakin jatuh miskin. Pertemuan kembali Leman dan Poniem benar-benar membuat Leman sadar. Satu kisah ketika Poniem memberikan beberapa logam uang kepada anaknya Leman benar2 menguras air mata. Begitulah…

Ketika anda membaca sinopsisnya jangan anda bayangkan dengan sinetron yang ada sekarang…jauh dari langit..tutur bahasa yang ditorehkan sang buya sangat rapi, manis dan menguras perasaan. Bagaimana kisah Poniem ketika merantau dan hidup dalam keprihatinan yang hidup dari biji jarak misalnya…sangat membawa kita ke dalam imaginasi yang dalam.

Buku kedua, “Dalam Perang Raden Intan”, buku ini sangat menarik karena dilengkapi dengan gambar ditiap bab-nya yang sangat hidup. Bercerita tentang anak kecil, Buyung, yang hidup dalam masa penjajahan dan menjadi saksi perjuangan Raden Intan, pahlawan nasional dari Lampung. Satu titik cerita yang menguras perasaan adalah ketika buyung melihat pamannya berkhianat dan menunjukkan persembunyian Raden Intan. Saya mencoba kembali googling akan tetapi saya tak menemukan satupun bahasan tentangnya. Maybe ada pembaca yang tau lebih detil bukunya??

Uupss…permisi ya, saya mau meneruskan kisah tentang Minke dan Nyai Ontosoroh ini…menarik…

  ref: sarqina.multiply.com

About these ads

3 responses to “Merantau Ke Deli

  1. assalamu’alaikum..

    salam kenal sebelumnya. kalau sekiranya tidak keberatan saya mau tanya informasi mengenai alamat rumah/no telp mba lies tania tantri. sudah lama saudara saya [salah satu sahabat mba lies dari sd-sma] kehilangan kontak dengan beliau semenjak pindah kuliah dan tempat tinggal. sebab saudara saya ingin sekali berjumpa dan bersilaturahmi dengan beliau. no telp saya yang bisa dihubungi 021-68729021. mohon bantuannya. terimakasih ya.

    salam,
    dyanti hidayat

  2. papahnyalazuward

    Wa’alaikum salam wr. wb.

    maaf sebelumnya, mba lies pengen tau nama saudara mba siapa??

  3. assalamu’alaikum,

    namanya Hidayat Adi Muhammad [saudara seiman + my beloved husband].
    Alhamdulillah mba Lies sudah kontak langsung ke aku.
    terimakasih banyak yah atas bantuannya, aku senang sekali.
    semoga Allah membalas kebaikan Papahnya Lazuward
    [btw, maaf.. memang nama asli Papahnya Lazuward siapa ya???]

    salam ukhuwah,
    dyanti hidayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s