it’s me

Jenderal Sudirman dari Purbalingga Lho!

Maret 3, 2008 · 7 Tanggapan

sudirman.jpgTerkadang rada malas juga menjawab kalau orang menanyakan asal daerah saya, bukan karena saya tidak bangga dengan daerah saya tapi karena saya sudah dapat menduga alur pembicaraan berikutnya. Kalimat berikut pasti jadi lanjutannya “dekat rumahnya sama Sumanto?”, “kenal dong sama Sumanto?”, atau yang lebih ekstrem “wah, hati2 neh jangan2 elo doyan juga sama daging manusia!” …

Sudah tahu kan yang namanya Sumanto?? kalau gak tau ya kebangetan berarti sampean tidak pernah baca atau setidaknya nonton TV so saya tidak usah lagi menjelaskannya kan??

Sebenarnya ada satu nama lagi yang begitu maestro, begitu mumpuni, begitu agung yang namanya selalu diabadikan disetiap jalan protokol di setiap kota baik provinsi atau kabupaten yaitu Jenderal Besar Sudirman. Tapi tahukah anda bahwa Jenderal Sudirman lahir di desa kecil di Purbalingga??

Yup, kalau tidak percaya anda bisa buka Wikipedia atau iseng2 saja tulis di google dengan kalimat sakti Sudirman Purbalingga, akan anda temui ratusan artikel yang menyatakan Sudirman lahir di Purbalingga.

Berikut sinopsis sedikit tentang beliau:

Pubalingga, merupakan kabupaten yang telah melahirkan seorang pejuang dan dai handal yang menjadi orang nomor satu di kemiliteran Indonesia. Beliau adalah Panglima Besar Jendral Soedirman. 

Soederman kecil dilahirkan dari keluarga petani kecil, di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh Asisten Wedana (Camat) di Rembang, yaitu R. Tjokrosunaryo.

Sedangkan ketika remaja, Soedirman aktif di Hizbul Waton, yaitu kepanduan di bawah payung Muhammadiyah. Di Hizbul Wathon inilah Soedirman menempa diri, baik fisik maupun ilmu agama.

Di Purbalingga juga berdiri monumen Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, sekitar 26 kilometer arah timur dari ibu kota Kabupaten Purbalingga. Pada tahun 1990, Presiden RI ke2, Soeharto, datang kesana. Ada selingan cerita seperti ini, saya ingat saat itu saya sekolah di MTs dan semua anak sekolah disuruhnya berbaris di tepi jalan mengibarkan bendera kecil merah putih, ceritanya menyambut Soeharto eh yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga…ya iyalah wong Soeharto nya naik helikopter he he…. 

So, sekali-sekali dong kalau nanya orang yang berasal dari Purbalingga, lanjutannya seperti ini saja, “wah deket dengan tempat kelahirannya Pak Sudirman?”, “wah semangat Pak Sudirman boleh ditiru tuh”…

referensi:

Sejarah Emas Islam Indonesia, Edisi Khusus Majalah Sabili.

Kategori: Jejak Langkah

Ketika Anakku Memanggilku “Bapak”

Maret 3, 2008 · 4 Tanggapan

Tak terasa sudah 13 bulan umur anakku. Rasanya baru kemarin ketika saya ajak ia belajar ngaji di perut ibunya dan dia menggelinjang memberi respon. Rasanya baru kemarin ketika cemas membuncah hebat di dada diluar kamar bidan menunggu kelahirannya. Rasanya baru kemarin ketika pekik jerit tangisnya pertama kali mewarnai indahnya dunia ini. Rasanya baru kemarin ketika aku mengalunkan suara adzan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya dan dia menatapku kedinginan.

Alhamdulillah perkembangan anakku berjalan normal dan jarang sekali sakit paling pernah mengalami panas sekali ketika imunisasi yang kedua selain itu pilek2 yang lumrah dialami anak kecil, satu-dua hari alhamdulillah sembuh.

Semenjak masih bayi memang anakku tidak seperti bayi-bayi yang lainnya yang suka menangis, rewel atau bangun di tengah2 malam memaksa orang tuanya begadang dan menggendongnya, anakku alhamdulillah tipe bayi yang tenang, bisa dibilang jarang sekali menangis, paling kalau kehausan itupun hanya menangis seadanya. Anakku juga tidak dibiasakan ditidurkan digendongan.

Pertama kali, jujur saya sebagai ayahnya sempat khawatir atas perkembangan anakku yang tidak lazim seperti ini. Apa ada kelainan? tanyaku dalam batin. Sempat juga browsing di internet tentang gejala2 penyakit tertentu (na’u dzubillah min dzalik) tapi alhamdulillah tidak ada satupun yang sesuai. Pendengaran, penglihatan, konsentrasi, bicara, daya tangkap, perkembangan fisik, kemampuan motorik alhamdulillah semuanya berjalan normal. Beberapa tetangga sering menimpali, “ada bayi kok rasanya seperti tidak ada bayi, gak ada suaranya”..tapi begitulah, anakku sepertinya memang tidak ingin menyusahkan ibu dan eyangnya karena saya pribadi tidak dapat berada di sisinya setiap waktu dan istriku harus mengajar di MAN berangkat pagi dan pulang menjelang jam 3.

Sementara saya hanya dapat pulang sekali dalam dua minggu. Itu hasil dari omongan hati ke hati dengan istri mengingat jarak yang lumayan jauh dan transportasi yang tidak begitu nyaman. Untuk mencapai kampung perlu waktu 10 jam naik bus Sinar Jaya, itupun adanya yang ekonomi kursi 2-3. Bisa dibayangkan betapa harus prihatinnya kaki menekuk semalaman karena jarak kursi depan dan belakangnya yang sangat berdekatan. Sebenarnya ada AC Ekonomi tapi berangkatnya sekitar jam 5 sore jadi tidak mungkin kekejar dari tempat kerja saya. Ada juga alternatif kereta Jakarta-Purwokerto, tapi setali tiga uang, kereta nyampe Purwokerto sekitar jam 1 dini hari dan untuk mencapai kampung saya mesti naik ojek sekitar 1 jam menembus dinginnya malam menjelang pagi melewati pinggiran kota yang sangat riskan kecelakaan dan kejahatan. Ada alternatif lain juga naik kereta pagi hari jam 07 dan nyampe Purwokerto sekitar jam 12.30 tapi rasanya sayang banget waktu yang terbuang untuk berkumpul bersama keluarga karena harus berangkat keesokan harinya. Pertimbangan lainnya adalah faktor kesehatan. Dengan perjalanan yang tidak begitu menyenangkan dan istirahat di rumah yang cuma sebentar seringkali memaksa fisik harus ekstra keras fit. Kalau fisik tidak fit bisa dibayangkan mudah sekali sakit.

Saya sebenarnya merasa bersalah dan merasa ada sesuatu yang hilang menyadari saya tidak dapat melihat setiap perkembangan anak saya setiap saat. Ada juga teman saya sempat bercanda..”jangan2 anaknya memanggil om” he he…tapi saya pribadi percaya akan adanya kekuatan hati ayah dan anaknya, Insya Allah anakku mengenal ayahnya dengan baik dan tidak akan tertukar dengan yang lainnya. Hal ini terbukti sejak anakku umur 2 bulan saya sudah sering menggendongnya dan dia kelihatan sangat nyaman berada dalam gendonganku. Begitupun ketika dia sudah mampu untuk memilih, dia memilih saya untuk minta digendong dibandingkan dengan paman atau uwa’nya bahkan eyangnya sendiri yang tiap hari merawatnya. Ibarat kata kalau ada saya dirumah maka pilihannya adalah hanya saya dan istriku.  

Saya masih ingat, ketika 10 bulan yang lalu istriku bilang lewat telepon, anak kita sudah dapat tengkurap rasanya diri ini ingin sekali buru2 pulang. Dua minggu rasanya berjalan lambat sekali. Tapi ada juga teman yang bilang, “kok kamu kayaknya tidak rindu sama anakmu?” menaggapi sikap saya yang tenang dan tidak menampakkan rasa rindu saya. Jujur saja saya tidak mau menaggapi pertanyaan itu, toh buat apa, ini adalah masalah perasaan, cukup saya sendiri yang bisa merasakan, tidak layak bagi saya mengumbar perasaan pribadi di depan orang lain.

Bagi saya yang penting adalah komitmen dengan keluarga dan komunikasi berjalan baik. Ada juga teman yang menanyakan saya jarang sekali pulang..ehmm…saya enteng saja menanggapinya, “iya neh sudah 6 bulan tidak pulang”, karena toh percuma saya jelaskan panjang lebar, buat apa??, dalam hati saya “memang kalau pulang saya mesti pamitan sama kamu??” he he.. Prinsipnya saya yang tahu “yang terbaik” untuk diri sendiri dan keluarga..

Eh..kok jadi curhat ya..Saya kan ingin ngomongin anak saya.

Minggu yang lalu saya pulang. Walaupun penat rasanya badan saya tapi menyadari akan segera bertemu dengan istri dan sang buah hati jadi hilang semua kepenatan. Menerobos sambutan angin dingin sang fajar di Purbalingga, saya berlindung dibalik punggung tukang ojek menuju rumah saya.

Dan benar saja, sambutan senyum dan tawa anak saya di depan pintu rumah menghangatkan badan yang sedari tadi kedinginan. Belum sempat saya menurunkan tas, anak saya sudah menubruk ingin di gendong. Saya ciumi kedua pipinya yang gembil itu dan dia juga menyambutnya dengan mencium pipi saya sambil bibirnya yang mungil berucap “muachhh”…itu memang diajarkan istri saya, kalau istri saya bilang “ayo ayah di sayang”, maka anak saya bertingkah seperti itu, mencium dan berucap ”muachh”…. 

Dan seperti janji dalam hati, saya akan memberikan waktu yang berkualitas dalam dua hari untuk anak saya. Dari menemani tidur, jalan2 pagi mengenalkan alam padanya, serta bermain-main bersama. Kebetulan di usianya sekarang sudah ada beberapa kosa kata yang dikuasainya seperti “mbem” yang maksudnya “kendaraan mobil/motor”, karena suaranya mbem..mbem..mbem…”maem” maksudnya “makan”, “wa” maksudnya “uwa”, “bu” maksudnya “ibu”, “deng” maksudnya nendang bola, ”nggak” maksudnya menolak ajakan. Anakku juga sudah dapat menirukan bunyi cicak “ck ck ck” sambil matanya mencari-cari di dinding atas tempat biasanya cicak nempel. Dan kata lainyya adalah “bapak”. Itu special panggilan buatku…kemarin pas pulang dia memanggilku terus..pak..pak…tidak mau lepas sama sekali dan tidak mau ditinggal walau hanya sekedar ke kamar kecil atau sholat. Anakku akan mencari-cari sambil memanggil-manggil “bapak..bapak..”, ketika ditemukannya saya sedang sholat buru2 dia minta dipangku…Oh anakku sayang…

Ada perasaan haru yang terdalam. Sesuatu kata yang kecil dan sederhana tapi mempunyai sarat makna yang dalam bagiku. Kata julukan “bapak” yang ditujukan padaku berarti saya harus lebih bertanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkannya serta menyediakan pendidikan yang cukup duniawi dan ukhrowi. Ketika saya tatap kedua matanya yang bulat dan bening, saya berujar dan berbisik “nak, jadi anak yang sholih ya, pintar, nantinya mandiri” dan diakhir wirid sholat saya, sepenggal doa aku munajatkan untuk keluarga kecilku, untuk buah hati yang sedang saya pangku, “semoga saya dapat menerima amanah ini dengan sebaik-baiknya karena taruhannya tidak main2 yaitu surga atau neraka”..

Papahnya Lazuward

Kategori: My Family