it’s me

“Tung tung tang tang tang tung tung..” Sebuah Anomali Program TV

Februari 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau anda pemerhati TV pasti tau banget kata-kata yang biasa dipakai Eko Patrio “tung tang tang tang tung tung” sekedar joke bahasa thailand untuk menyegarkan suasana dalam acara Supermama Seleb Show dan Concert …Banyak idiom yang akhirnya familiar seperti “jangan gila dong..” yang biasa dipakai Ruben Onsu, atau bahasa tarzan-inggris..”anybody hell…don’t make si hot don’t…”, teriakan eko “ea.ao..baju baju ba…”, “tulung-tulung..” atau bisikan ivan “..ssst..anak saya sedang tidur”, serta beberapa gesture seperti mukul2in kepala sendiri seperti yang biasa Ruben lakukan atau gulang-guling kayak Eko…

Selain presenter dan komentatornya yang gokil abis, pemirsa masih dapat menikmati kepolosan sang supermama, seperti Mama Dahlia dan Mama Suhana..ini sudah jadi bagian jualannya Supermama Seleb Concert..mengikuti jualan acara Mama Mia yang berhasil menjual kepolosan Mama Saidah..

Sesuai dengan hasil rating AC Nielsen, program TV ini sempat menembus peringkat 1 mengalahkan program2 unggulan TV lainnya, satu bukti bahwa acara ini cukup digemari masyarakat…

Menilik suksesnya acara ini saya jadi teringat suksesnya program acara “Empat Mata” dengan maskotnya Tukul Arwana. Satu kesamaan yang ditarik dari dua program ini adalah sama2 keluar dari pakem sebuah reality show yang biasanya serius, dibawa presenter yang menguasai teknik presenter, serta kemampuan bahasa inggris yang excellent. Keduanya hanya menawarkan kesegaran. Masyarakat yang sepertinya telah lelah dengan kepenatan kerja sehari-hari cukup terhibur dengan joke dan guyonan hostnya. Masyarakat sepertinya sudah capai dejejali sinetron2 sampah yang hadir dari jam 6 sampai jam setengah sebelas, tidak ada alternatif hiburan lain yang menarik…

Kelemahan dari kedua program tersebut adalah stasiun TV selalu tergiur untuk menambah porsi program tersebut atau memperpanjang kontraknya sekedar untuk memaksimalkan keuntungan tanpa disertai peningkatan kualitas akibatnya dapat ditebak, masyarakat jenuh dan mencari alternatif hiburan lainnya…

Liat saja, program “Empat Mata” sekarang ini sudah meredup. Dan stasiun Indosiar yang dari sononya memang sudah terkenal dengan menduplikasi program-program suksesnya seperti AFI, sepertinya tidak belajar banyak dari hal tersebut terbukti jam tayang Supermama Seleb Concert yang durasinya diperpanjang dari jam 18.00 s.d. 23.30…5,5 jam..busyet dech…tak hanya itu, mendekati berakhirnya program tersebut, Indosiar membuat lagi acara sejenis Superstar Show…weleh weleh…liat saja paling program ini akan berakhir mengenaskan seperti program AFI dulu…

Papahnya Lazuward

Kategori: Entertainment

“Yes We Can”…

Februari 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

It was a creed written into the founding documents that declared the destiny of a nation.
Yes we can.
It was whispered by slaves and abolitionists as they blazed a trail toward freedom.
Yes we can. Yes we can.
It was sung by immigrants as they struck out from distant shores
and pioneers who pushed westward against an unforgiving wilderness.
Yes we can. Yes we can.
It was the call of workers who organized;
women who reached for the ballots;
a President who chose the moon as our new frontier;
and a King who took us to the mountain-top and pointed the way to the Promised Land.
Yes we can to justice and equality.
(yes we can, yes we can, yes we can, yes we can…)
Yes we can to opportunity and prosperity.
Yes we can to opportunity and prosperity.
Yes we can heal this nation.
Yes we can repair this world.
Yes we can. Si Se Puede
(yes we can, yes we can, yes we can, yes we can…)
We know the battle ahead will be long,
but always remember that no matter what obstacles stand in our way,
nothing can stand in the way of the power of millions of voices calling for change.
We want change!
(We want change! We want change! We want change…)
We have been told we cannot do this by a chorus of cynics who will only grow louder and more dissonant.
We’ve been asked to pause for a reality check.
We’ve been warned against offering the people of this nation false hope.
But in the unlikely story that is America, there has never been anything false about hope. We want change!
(We want change! I want change! We want change! I want change…)

The hopes of the little girl who goes to a crumbling school in Dillon are the same as the dreams of the boy who learns on the streets of LA;
we will remember that there is something happening in America;
that we are not as divided as our politics suggests;
that we are one people;
we are one nation;
and together, we will begin the next great chapter in America’s story with three words that will ring from coast to coast;
from sea to shining sea – Yes. We. Can.
(yes we can, yes we can, yes we can, yes we can, yes we can, yes we can, yes we can, yes we can…)

Lirik di atas diambil dari lagunya Will.I.am, pentolan Black Eyed Peas yang terinspirasi dengan pidatonya Barack Obama pada saat kampanye menjelang primary di New Hampshire. Lirik di atas hanya sebagai gambaran betapa fenomena Barack Obama dengan slogannya “Yes We Can” diterima antusias publik Amerika Serikat dari kalangan anak muda dan berpendidikan, hmm…mereka rindu akan perubahan seperti yang ditawarkan oleh Barack Obama dalam setiap pidatonya. Perubahan tentang paradigma kekerasan dan perang yang selama ini telah menjadi garis kebijakan presiden-presiden AS sebelumnya. Barack Obama sepertinya akan menjadi ujian publik dan politisi AS tentang masalah rasial dan minoritas di negara tersebut. Kematangan demokrasi sedang diuji. Jika nantinya dalam primary-primary yang diadakan di masing-masing negara bagian Barack Obama unggul dengan selisih yang tidak terlalu signifikan dari Hillary Clinton, maka publik AS telah teruji dengan isu rasial..nah giliran politisinya akan diuji.

Seperti diketahui untuk menentukan kandidat calon presiden dari partai baik demokrat atau republik ditentukan melalui mekanisme primary untuk menentukan banyaknya delegasi konvensi. Kalau dalam partai demokrat jumlah delegasi yang diperebutkan melalui mekanisme primary adalah 3.253 delegasi ditambah 796 super delegasi yang independen. Superdelegasi ini adalah pengurus partai politik demokrat. Sehingga untuk memenangkan konvensi minimal 2.025 delegasi harus berada di tangan. Super delegasi ini punya peranan sangat menentukan kandidat sekarang ini. Walaupun publik, misalnya, telah memilih Barack Obama namun dengan suara yang tidak signifikan, tidak menjamin dia akan memenangkan konvensi.

Namun kembali dengan slogan “Yes We Can” segalanya mungkin dapat terjadi walaupun dari hasil polling menunjukkan super delegasi lebih condong mendukung Hillary Clinton.

Setidaknya negara kita sedikit banyak berharap kecipratan kebijakan luar negeri AS yang lunak ke negara kita mengingat latar belakang Barack Obama yang pernah mengalami masa kecilnya di Jakarta. Dan saya termasuk orang yang percaya bahwa masa kecil adalah “unforgettable moment” ..yah walaupun sistem di negara AS sana sangat sarat dengan lobby2 yahudi dan sebangsanya tapi boleh kan sedikit kecipratan ..sedikit aja….gak papa kok…

Papahnya Lazuward 

Referensi:

Musicloversgroup.com

Kategori: Politik-Ekonomi